Pada saat pembelajaran di kelas, sering saya lakukan penjajagan pengetahuan siswa terhadap suatu topik yang akan kami bahas. Tujuannya agar diperoleh informasi seberapa jauh penguasaan siswa terhadap topik tersebut untuk selanjutnya saya akan menekankan penguasaan pada materi yang belum dikuasai dengan baik.
Dalam kenyataannya, sering terjadi bahwa para siswa sudah mempelajarinya, bahkan sejak SD maupun SMP, namun sering terjadi salah konsep. Yang paling sering terjadi adalah makna kias disamakan dengan makna konotatif.
Misalnya :
(1) Ayahnya memeras keringat dan membanting tulang demi cita-cita
anaknya.
(2) Banyak buah penanya yang telah diterbitkan dan dijual bebas.
Ternyata para siswa umumnya menganggap bahwa kata-kata bercetakmiring tersebut dianggap kata yang bermakna konotatif, padahal yang benar adalah kata-kata yang bermakna kias. Kekeliruan ini tidak dapat dilepaskan dari kesalahan guru sebelumnya dalam menjelaskan kosep dasarnya. Karena itu, diperlukan pemahaman yang benar dan kecermatan untuk menentukan jenis makna kata dengan tepat.
.
Ragam Makna
Secara garis besar makna dapat dibedakan sebagai berikut :
a. Makna denotatif dan makna konotatif
Makna denotatif adalah makna kata yang sebenarnya yang tidak memiliki
tambahasan nilai rasa. Adapun makna konotatif adalah makna kata yang
memiliki tambahan nilai rasa positif (baik, indah) atau nilai rasa negatif
(jelek, jahat).
Selamat Datang,
Blog ini berisi segala wacana yang berhubungan dengan bahasa dan sastra Indonesia. Di antaranya tentang wacana bahasa dan sastra Indonesia, bahan ajar, pusi, cerpen, penelitian, lomba menulis / mengarang, hingga tes kebahasaan.
Saya berharap ada kritik dan saran Anda yang dapat menyempurnakan blog ini.
Bagi adik-adik, silakan membaca atau mengkopi isi blog ini untuk keperluan tugas atau lainnya. Sesuai dengan etika ilmiah, silahkan kutip sumbernya yaitu dari blog ini.
Terima kasih atas kunjungan Anda.
Blogmaster
Blogmaster
01 Desember 2011
28 November 2011
Mengapa Harus Berbahasa Baku?
Istilah baku, menurut KBBI, berarti standar, pokok, utama, tolok ukur yang berlaku untuk kualitas atau kuantitas yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan. Jadi, bahasa baku berarti bahasa standar, yaitu bahasa yang dijadikan tolok ukur sebagai bahasa yang baik dan bahasa benar.
Bahasa yang baik dan bahasa yang benar merupakan dua istilah yang berbeda namun bisa menjadi satu. Bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan situasinya. Hal ini berarti bila situasinya tidak resmi / santai, kita sebaiknya menggunakan bahasa yang tidak resmi . Misalnya; berbicara dengan teman akrab, berbicara dengan para pedagang di pasar, berbicara dengan saudara kita, dan sejenisnya. Dalam hal ini kita tidak diwajibkan menggunakan bahasa baku. Justru bila kita menggunakannya akan tampak aneh bahkan lucu.
Adapun bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah kebahasaan. Kaidah kebahasaan, khususnya dalam bahasa Indonesia baku yang telah ditetapkan oleh Pusat Bahasa meliputi :
Bahasa yang baik dan bahasa yang benar merupakan dua istilah yang berbeda namun bisa menjadi satu. Bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan situasinya. Hal ini berarti bila situasinya tidak resmi / santai, kita sebaiknya menggunakan bahasa yang tidak resmi . Misalnya; berbicara dengan teman akrab, berbicara dengan para pedagang di pasar, berbicara dengan saudara kita, dan sejenisnya. Dalam hal ini kita tidak diwajibkan menggunakan bahasa baku. Justru bila kita menggunakannya akan tampak aneh bahkan lucu.
Adapun bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah kebahasaan. Kaidah kebahasaan, khususnya dalam bahasa Indonesia baku yang telah ditetapkan oleh Pusat Bahasa meliputi :
24 November 2011
Awalan Serapan dalam Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia adalah bahasa yang hidup, bukan bahasa yang mati, sebagaimana bahasa Sanskerta dan bahasa Kawi. Artinya bahasa Indonesia masih bisa berkembang. Pada saat ini yang terbuka lebar adalah perkembangan pada aspek kosakata / istilah dan gaya bahasa. Itu pun harus sesuai dengan Pedoman Pembentukan Istilah.
Dalam bahasa Indonesia banyak dijumpai awalan serapan dari bahasa asing, khususnya bahasa Barat, seperti bahasa Inggris, Belanda dan Latin. Sebagaimana sebagai awalan dalam bahasa Indonesia asli, penulisan awalan serapan ini harus dituliskan serangkai dengan bentuk / kata dasarnya.
Jenis, makna, dan awalan serapan sebagai berikut.
Awalan Serapan Makna Contoh Hasil Bentukan
a-, i- tidak, tanpa amoral, asusila, irasional, ilegal
non-, nir- tidak nonaktif, nonbudgeter, nirlaba, niraksara
in-, dis tidak informal, inkonvensional, disfungsi,
diskualifikasi
awa- tidak awalaras, awabau, awahama
anti- lawan antiperas, antikorupsi, antonim
Dalam bahasa Indonesia banyak dijumpai awalan serapan dari bahasa asing, khususnya bahasa Barat, seperti bahasa Inggris, Belanda dan Latin. Sebagaimana sebagai awalan dalam bahasa Indonesia asli, penulisan awalan serapan ini harus dituliskan serangkai dengan bentuk / kata dasarnya.
Jenis, makna, dan awalan serapan sebagai berikut.
Awalan Serapan Makna Contoh Hasil Bentukan
a-, i- tidak, tanpa amoral, asusila, irasional, ilegal
non-, nir- tidak nonaktif, nonbudgeter, nirlaba, niraksara
in-, dis tidak informal, inkonvensional, disfungsi,
diskualifikasi
awa- tidak awalaras, awabau, awahama
anti- lawan antiperas, antikorupsi, antonim
22 November 2011
Kata Penghubung Antarkalimat
Kata penghubung (konjungsi) antarkalimat berfungsi menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat lainnya. Tujuannya agar memperoleh makna yang lebih lengkap dibandingkan bila kalimat-kalimat tersebut berdiri sendiri-sendiri. Berbeda dengan kata penghubung antarkata yang posisinya di dalam suatu kalimat, posisi kata penghubung antarkalimat ini harus selalu ditempatkan di awal kalimat penghubungnya dan harus diberikan tanda koma (,).
Contoh :
* Di dalam negeri produksi sepatu melimpah di dalam negeri.
Menteri Perdagangan belum menghentikan impor sepatu dari Cina.
Perbaikannya :
* Di dalam negeri produksi sepatu melimpah di dalam negeri. Namun,
Dengan menambahkan kata penghubung namun, pada kedua kalimat tersebut sehingga menyatakan makna tambahan makna ironis / kontradiksi realitas.
Contoh :
* Di dalam negeri produksi sepatu melimpah di dalam negeri.
Menteri Perdagangan belum menghentikan impor sepatu dari Cina.
Perbaikannya :
* Di dalam negeri produksi sepatu melimpah di dalam negeri. Namun,
Menteri Perdagangan belum menghentikan impor sepatu dari Cina.
Label:
or
20 November 2011
Kalimat Ambigu
Ambigu berasal dari kata 'ambigous' yang berarti bermakna lebih satu. Makna ambigu dapat terjadi pada frase, klausa, atau kalimat. Perhatikan kalimat berikut ini :
* Orang mati dilompati kucing hidup.
Kalimat tersebut dapat diartikan 3 makna kalimat, yaitu :
Makna 1 : Orang yang mati kemudian dilompati kucing yang hidup.
(Dalam hal ini orangnya tetap mati, dan kucingnya memang hidup)
Makna 2 : Orang yang mati dilompati kucing kemudian orang matinya
menjadi hidup.
Makna 3 : Orang hidup menjadi mati karena dilompati kucing yang hidup.
Untuk memecahkan problematika kalimat ini, dapat dilakukan dengan cara memberikan tanda baca yang tepat atau kata-kata tambahan yang memang diperlukan, yaitu :
Makna 1 : Orang-mati dilompati kucing-hidup.
Makna 2 : Orang-mati dilompati kucing, hidup.
Makna 3 : Orang,mati, dilompati kucing-hidup.
Contoh lainnya :
(1) Teman Aminah yang cantik sedang sakit.
Maknanya : yang cantik bisa Aminah atau temannya.
(2) Isteri gubernur yang galak itu sedang naik mobil.
Maknanya : yang galak bisa gubernur atau isterinya.
(3) Pengusaha baru membangun pabrik minuman keras di luar kota.
Maknanya : pengusaha yang baru atau baru saja membangun.
(4) Toni dan Selvy sedang pergi ke Mal Delta. Ia tidak mengajak adiknya.
Maknanya : Ia bisa merujuk pada Toni atau Selvy.
* Orang mati dilompati kucing hidup.
Kalimat tersebut dapat diartikan 3 makna kalimat, yaitu :
Makna 1 : Orang yang mati kemudian dilompati kucing yang hidup.
(Dalam hal ini orangnya tetap mati, dan kucingnya memang hidup)
Makna 2 : Orang yang mati dilompati kucing kemudian orang matinya
menjadi hidup.
Makna 3 : Orang hidup menjadi mati karena dilompati kucing yang hidup.
Untuk memecahkan problematika kalimat ini, dapat dilakukan dengan cara memberikan tanda baca yang tepat atau kata-kata tambahan yang memang diperlukan, yaitu :
Makna 1 : Orang-mati dilompati kucing-hidup.
Makna 2 : Orang-mati dilompati kucing, hidup.
Makna 3 : Orang,mati, dilompati kucing-hidup.
Contoh lainnya :
(1) Teman Aminah yang cantik sedang sakit.
Maknanya : yang cantik bisa Aminah atau temannya.
(2) Isteri gubernur yang galak itu sedang naik mobil.
Maknanya : yang galak bisa gubernur atau isterinya.
(3) Pengusaha baru membangun pabrik minuman keras di luar kota.
Maknanya : pengusaha yang baru atau baru saja membangun.
(4) Toni dan Selvy sedang pergi ke Mal Delta. Ia tidak mengajak adiknya.
Maknanya : Ia bisa merujuk pada Toni atau Selvy.
17 November 2011
Pawai Malam yang Selalu Datang
Buat Para Pecinta
yang selalu datang di pagi buta
turunlah selaksa bidadara sorga
dengan mengepakkan sayapnya
sambil mendendangkan shalawat dan doa
terompet dan gita mereka membahana dunia
ditimpa sorai para melata
yang tak henti membahanakan puja-puja
Pawai Malam
yang selalu datang di pagi buta
memuliakan para pecinta
yang telah memutus nadi ego mereka
kemudian tak lelah memetik dawai asmara
Pawai Malam
yang selalu datang di pagi buta
adalah perhelatan akbar pesta
sebagai saksi pertemuan para pecinta
yang asyik masyuk dengan Yang Baqa
16 November 2011
Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang secara tepat dapat mewakili gagasan penulis / pembicara dan dipahami sama oleh pembaca atau pendengarnya. Ada pula yang mengartikan bahwa kalimat efektif adalah yang benar (baku), jelas, dan lengkap serta mudah dipahami oleh pembaca atau pendengarnya.
Adapun syarat kalimat efektif adalah : (1) kesatuan gagasan, (2) kepaduan unsur, (3) keparalelan bentuk, (4) ketepatan makna, (5) kehematan kata, dan (6) kelogisan bahasa.
1. Kesatuan Gagasan
Kesatuan gagasan adalah adanya satu ide pokok dalam sebuah kalimat. Kesatuan ide dalam kalimat ditandai oleh keberadaan S dan P. Kesatuan tersebut bisa saja hanya satu ide pokok (dalam kalimat tunggal) atau beberapa ide pokok namun tetap dalam satu ikatan ide pokok besar yang saling berhubungan (dalam kalimat majemuk). Yang tidak dibenarkan adalah menggabungkan dua kesatuan ide yang tidak mempunyai hubungan sama sekali ke dalam sebuah kalimat.
Adapun syarat kalimat efektif adalah : (1) kesatuan gagasan, (2) kepaduan unsur, (3) keparalelan bentuk, (4) ketepatan makna, (5) kehematan kata, dan (6) kelogisan bahasa.
1. Kesatuan Gagasan
Kesatuan gagasan adalah adanya satu ide pokok dalam sebuah kalimat. Kesatuan ide dalam kalimat ditandai oleh keberadaan S dan P. Kesatuan tersebut bisa saja hanya satu ide pokok (dalam kalimat tunggal) atau beberapa ide pokok namun tetap dalam satu ikatan ide pokok besar yang saling berhubungan (dalam kalimat majemuk). Yang tidak dibenarkan adalah menggabungkan dua kesatuan ide yang tidak mempunyai hubungan sama sekali ke dalam sebuah kalimat.
14 November 2011
Cara Mengutip dan Menuliskan Catatan Kaki
(Beberapa minggu yang lalu ada pembaca yang meminta penjelasan tentang cara menuliskan catatan kaki. Sebelumnya saya sampaikan mohon maaf karena saya agak terlambat menanggapi dan menjelaskannya. Ada beberapa materi lain yang menurut saya lebih penting untuk didahulukan. Dalam artikel ini akan saya jelaskan sekaligus cara mengutip dan menuliskan referensi. Hal ini karena keduanya sangat berkaitan langsung. Terima kasih atas pertanyaan Anda).
Bila kita berbicara tentang tatacara penulisan kutipan dan catatan kaki, kita tidak bisa melepaskan dari konvensi penulisan. Berdasarkan amatan saya terhadap beberapa kali mengirimkan lomba karya ilmiah untuk siswa kami, ternyata banyak ragam konvensi penulisan. Hampir setiap perguruan tinggi menggunakan konvensi penulisan sendiri. Mereka tidak menggunakan konvensi penulisan dari (Pusat Bahasa) Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa yang merupakan otoritas penyaran berbagai kaidah penulisan khususnya yang berhubungan dengan kebahasaan. Sebagai peserta lomba, terpaksa kami harus meninggalkan kaidah penulisan dari Pusat Bahasa dan mengikuti kaidah penulisan perguruan tinggi tersebut untuk sementara waktu.
Dalam artikel ini, saya kembali menjelaskan kaidah penulisan menurut Pusat Bahasa yang seharusnya digunakan oleh semua kalangan.
Bila kita berbicara tentang tatacara penulisan kutipan dan catatan kaki, kita tidak bisa melepaskan dari konvensi penulisan. Berdasarkan amatan saya terhadap beberapa kali mengirimkan lomba karya ilmiah untuk siswa kami, ternyata banyak ragam konvensi penulisan. Hampir setiap perguruan tinggi menggunakan konvensi penulisan sendiri. Mereka tidak menggunakan konvensi penulisan dari (Pusat Bahasa) Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa yang merupakan otoritas penyaran berbagai kaidah penulisan khususnya yang berhubungan dengan kebahasaan. Sebagai peserta lomba, terpaksa kami harus meninggalkan kaidah penulisan dari Pusat Bahasa dan mengikuti kaidah penulisan perguruan tinggi tersebut untuk sementara waktu.
Dalam artikel ini, saya kembali menjelaskan kaidah penulisan menurut Pusat Bahasa yang seharusnya digunakan oleh semua kalangan.
Langgan:
Entri (Atom)






