Selamat Datang,

Blog ini berisi segala wacana yang berhubungan dengan bahasa dan sastra Indonesia. Di antaranya tentang wacana bahasa dan sastra Indonesia, bahan ajar, pusi, cerpen, penelitian, lomba menulis / mengarang, hingga tes kebahasaan.
Saya berharap ada kritik dan saran Anda yang dapat menyempurnakan blog ini.

Bagi adik-adik, silakan membaca atau mengkopi isi blog ini untuk keperluan tugas atau lainnya. Sesuai dengan etika ilmiah, silahkan kutip sumbernya yaitu dari blog ini.

Terima kasih atas kunjungan Anda.

Blogmaster



Cara Cepat Mencari Blog Ini>>>>>>>>>>> Ketikkan Wacana Bahasa pada Google

Puisi

Model Membaca Puisi Siswa Kelas XIIA1

31 Mei 2012

Pocong pun Bisa Jadi Media Pembelajaran

          Ide aneh ini berawal saat ada tantangan lomba media pembelajaran berbasis ICT dari Depdiknas 2006 silam. Berbekal obsesi bonek, ide nyleneh, pengalaman ala kadarnya, maka kami ciptakan media pembelajaran “Tatacara Penyelenggaraan Jenazah”. Hasilnya luarbiasa. Media pembelajaran ini memenangi Medali Perak (Silver Prize) Tingkat Nasional 2006 di Jakarta. Meski bukan yang terbaik, namun media pembelajaran ini mampu menyedot perhatian banyak pihak.
          Memang, sengaja kami ciptakan media pembelajaran ini berawal dari ketiadaanya media dengan topik ini di lapangan, baik yang dijual bebas atau yang sekedar menjadi arsip pribadi. Para guru bidang studi Fiqih kesulitan ketika menjelaskan dengan baik tatacara penyelenggaraan jenazah. Hal ini karena materi dengan topic ini selain memiliki dasar-dasar (nash Quran maupun Hadits) juga perlu banyak praktik yang perlu diragakan. Tujuannya agar para siswa mampu mempraktikkan tatacara ini secara sistematis dan benar.



          Media Harus Perfect
          Berbekal keyakinan yang mantap saya berkolaborasi dengan para guru Fiqih dengan dibantu para siswa sebagai peraganya. Saya berperan sebagai sutradara, kameramen, dan sekaligus desainer multimedianya. Karena media ini juga untuk dilombakan pada level nasional, media ini harus dibuat perfect. Artinya mendekati sempurna. Selain berisi paparan teks, ayat dan terjemahannya, media ini berisi film, pembicaraan, music, dan sound effect. Film dibagi atas tahap-tahap pelaksanaannya mulai cara mensucikan jenazah, cara mengkafaninya, cara menshalatkannya, hingga cara menguburkannya.
          Untuk itu kami harus siapkan segalanya mulai menyiapkan kain kafan, pewangi, kapur barus, keranda, pocongan mayat, model makam. Model makam kami buat di halaman sekolah agar bisa diamati semua siswa. Untuk mensucikan jenazah kami menggunakan boneka seukuran manusia. Memang ada siswa yang bersedia dijadikan model saat disucikan dan dikafani. Namun demikian, kami tidak mau mengambil resiko bila nantinya terjadi hal-hal yang tidak baik pada siswa si peraga.
          Ketika syuting kami terpaksa harus mengulang-ulang adegan untuk mendapatkan gambar yang terbaik. Demikian pula hal ini terjadi saat kami melakukan dubbing. Maklumlah, kami belum berpengalaman di bidang ini.

          Kesulitan adalah Tantangan Menyenangkan
          Kesulitan berikutnya adalah saat mendesainnya menjadi media pembelajaran. Komputer yang saya gunakan saat itu hanya Pentium III/800 dengan RAM 2 Giga dan VGA 286 M. Akibatnya ketika dimasukkan ke dalam flash 8 untuk film dengan panjang 15 menit, waktu render yang dibutuhnya lebih dari 1 jam.
          Kesulitan lainnya flash 8 merupakan program yang baru saja saya pelajari secara otodidak. Tanpa adanya guru, saya bagaikan tersesat di hutan belantara. Kepada siapa saya harus bertanya, hanya kepada kesabaran saya untuk melakukan trial and error. Saya akan sangat puas ketika mampu menemuka trik-trik baru dalam mendesain. Itu saya lakukan hingga media selesai.

          Membangun Monumen
          Apa senangnya membuat media pembelajaran berbasis TIK? Motivasi Omjay (Wijaya Kusumah) yang berpesan agar selalu menulis setiap hari dan menunggu keajaiban akan datang memang tepat sekali. Terbukti, bagi saya menulis atau membuat media pembelajaran adalah membangun monumen untuk diri sendiri. Untuk itu buatlah media pembelajaran dengan serius kemudian kemaslah dengan bagus sebagaimana kemasan CD yang dijual bebas. Kumpulkan karya-karya tersebut dan akhirnya akan menjadi portofolio kita untuk berbagai event lomba.
          Demikian halnya media “Tatacara Penyelenggaraan Jenazah”. Media ini disamping memenangi juara nasional, media ini (dan media lainnnya) mengantarkan saya pada lomba guru berprestasi di Kemenag Provinsi, LP3I Jakarta, dan Maarif Pusat. Media ini juga sangat popular sehingga selalu digunakan siswa saat Pondok Ramadan hingga saat ini. Di samping itu banyak ibu-ibu jamaah tahlil dan pengajian menggunakannya untuk pelatihan penyelenggaraan jenazah di kampung-kampung.
           Semoga bermanfaat!

1 komentar:

  1. Wah bagus, ilmu sederhana dengan pendekatan IT
    hasilnya bisa diunduh semua orang ga?

    Nice share.
    www.makna.net

    BalasHapus

Masukan dan Komentar Anda