Selamat Datang,

Blog ini berisi segala wacana yang berhubungan dengan bahasa dan sastra Indonesia. Di antaranya tentang wacana bahasa dan sastra Indonesia, bahan ajar, pusi, cerpen, penelitian, lomba menulis / mengarang, hingga tes kebahasaan.
Saya berharap ada kritik dan saran Anda yang dapat menyempurnakan blog ini.

Bagi adik-adik, silakan membaca atau mengkopi isi blog ini untuk keperluan tugas atau lainnya. Sesuai dengan etika ilmiah, silahkan kutip sumbernya yaitu dari blog ini.

Terima kasih atas kunjungan Anda.

Blogmaster



Cara Cepat Mencari Blog Ini>>>>>>>>>>> Ketikkan Wacana Bahasa pada Google

Puisi

Model Membaca Puisi Siswa Kelas XIIA1

05 Juni 2012

Berjualan Media Pembelajaran, Etiskah?


            Anda kurang PD dalam mengajar? Gunakanlah media ini, Anda akan PD dan pembelajaran Anda akan sangat menyenangkan. Demikian pernyataan ini berkali-kali saya sampaikan untuk menawarkan media pembelajaran saya. Ternyata cukup banyak yang membeli. Bahkan, dalam setiap workshop atau seminar guru media ini bisa terjual lebih dari 50 keping (yang per kepingnya Rp 75.000,00).
                Permasalahannya, di tengah gelombang semangat untuk siap berbagi ilmu dan pengalaman, ternyata saya dengan egois mengambil peluang demi keuntungan ekonomis. Lalu, apa pendapat kita tentang tindakan berjualan media pembelajaran pada sesama guru? Hal ini urgen saya sampaikan karena tampaknya ada yang aneh dalam ‘etika ilmiah’ kita (para guru).


Suatu saat saya melayani beberapa orang guru yang tampak antusias membeli. Kemudian mereka masuk ke dalam ruang workshop dan mencoba mengkopinya ke dalam laptop. Setelah mereka memutar hasil kopian tersebut dalam laptop ternyata tidak berhasil ditayangkan( Sementara itu CD pembelajaran tetap bisa ditayangkan).
Seperti tidak merasa bersalah karena mengkopi (maksud saya “membajak”), mereka protes. Dengan menyampaikan permintaan maaf, akhirnya saya jelaskan bahwa CD media tersebut sudah saya protek agar tidak bisa dikopi. Namun demikian, ternyata tidak terbersit sedikit pun perasaan mereka bahwa “membajak” (khususnya CD Media) karya orang lain juga merupakan kesalahan. Anehnya justru terlontar pernyataan bahwa saya egois, tidak mau beramal, dan hanya memanfaatkan kelemahan mereka demi uang. Siapakah yang salah pembuatnya atau pembajaknya? Ataukah memang iklim ‘etika ilmiah’ kita masih sangat payah, khususnya dalam penghargaan hak cipta.
Sekali lagi ide pembuatan media pembelajaran ini berawal dari MGMP Guru Bahasa Indonesia. Salah satu usulan saat itu penting adalah perlunya diciptakan media teknik membaca puisi. Sebenarnya sudah ada media teknik membaca puisi dari WS Rendra. Namun, media ini dalam kondisi rusak. Itu pun dari hasil bajak-membajak saat ada workshop. 
Sebagai orang yang punya pengalaman dalam pembuatan media, saya membaca peluang besar di sini. Saya memahami tidak semua guru mampu membacakan dan membawakan pembacaan puisi dengan tepat. Banyak di antaranya kurang PD: apakah pembacaan puisi sudah tepat atau belum. Karena itu perlu pembelajaran modeling (salah satu pendekatan pembelajaran konstekstual) dengan menghadirkan mereka yang professional dalam pembacaan puisi; mereka adalah para penyair.
Di sinilah insting bisnis saya bangkit. Saya punya kenalan seorang guru dan juga penyair yang pernah menjadi Juara 1 Membaca Puisi se-Jawa Timur. Melalui penyair ini saya bermaksud bekerja sama dengan teater mereka (ARS – Alam Ruang Sastra) untuk membuat media pembelajaran Teknik Membaca Puisi termasuk di dalamnya contoh-contoh pembacaan puisi oleh 6 orang penyair yang masing-masing membawakan 2 buah puisi. Pengambilan gambar di dua lokasi berbeda dan saya bertindak sebagai pengarah dan pengambil gambar.
Setelah itu saya mengeditnya dengan Adobe Premiere Pro, Cool Edit,  dan menungkannya dalam Macromedia Flash 8. Agar tidak mudah untuk digandakan (dibajak) orang saya harus belajar otodidak bagaimana melakukan proteksi. Saat tahap penyelesaian (finishing), saya cetak cover dan label dengan sedikit elit dan memasukkannya dalam DVD box.
Pemasaran saya lakukan bersama anak buah saya baik di seminar-seminar atau pertemuan lainnya bahkan di blog saya. Lumayan, pembelinya paling banyak dari kalangan mahasiswa dan guru, saat seminar / workshop. Pembeli melalui blog pun sudah mencapai lebih dari 50 orang, yang umumnya dari luar Jawa.
Akhirnya, etiskah saya mengutip keuntungan dari perjuangan dan jerih payah pembuatan media ini? Seberapa batas kita harus berbagi dengan yang lain dan mengambil keuntungan.
Semoga bermanfaat.


                

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Masukan dan Komentar Anda