Selamat Datang,

Blog ini berisi segala wacana yang berhubungan dengan bahasa dan sastra Indonesia. Di antaranya tentang wacana bahasa dan sastra Indonesia, bahan ajar, pusi, cerpen, penelitian, lomba menulis / mengarang, hingga tes kebahasaan.
Saya berharap ada kritik dan saran Anda yang dapat menyempurnakan blog ini.

Bagi adik-adik, silakan membaca atau mengkopi isi blog ini untuk keperluan tugas atau lainnya. Sesuai dengan etika ilmiah, silahkan kutip sumbernya yaitu dari blog ini.

Terima kasih atas kunjungan Anda.

Blogmaster



Cara Cepat Mencari Blog Ini>>>>>>>>>>> Ketikkan Wacana Bahasa pada Google

Puisi

Model Membaca Puisi Siswa Kelas XIIA1

16 Juni 2008

Cerpen : Lelah


LELAH

Oleh : Sartono


Ini berawal ketika aku berada di desa. Kakakku, lurah desa itu, mengatakan ada kursus bahasa Inggris. Kursus itu diberikan kepada siapa saja yang mau mengikuti secara terus-menerus.

”Kau tahu, Yon? Yang memberikan kursus itu orangnya memang jepolan, kata orang, dan aku tahu memang orang itu kelihatannya pandai sekali. Namanya Pak Harjo, lengkapnya Harjosubroto. Tapi kata orang dia sakit. Pikirannya ..... ”, Kakakku menjelaskan dan memutus kata-katanya.

Pikirannya? Mengapa pikirannya? Pikiranku berkecamuk apa yang terjadi pada pikirannya.

”Kami ikut kursus saja nanti sore. Kursus ini diadakan pada hari Rabu malam dan Sabtu malam sehabis shalat Isya”.

Meski tanpa dijawab, aku sudah tahu yang terjadi pada orang itu, dari tetangga. Namun benarkah itu? Menurut cerita yang pernah kudengar, hal itu memang bisa terjadi. Kalau ada orang yang terlalu pandai sedangkan ia tidak kuat memikul beban kepandaiannya itu, ia akan bisa menderita seperti itu. Tapi, hal ini mustahil terjadi. Katanya ia seorang intelektualis. Tentu ia berpikiran modern dan bisa menanggulanginya.

Selesai shalat Isya, aku bersama kakakku ke kantor Balai Desa. Keingintahuanku pada orang itu makin menjadi. Siapa sebenarnya dia dan apa keistimewaannya.

Terdengar suara lantang, ketika kami mulai masuk halaman Balai Desa. Kata-kata bahasa Indonesia dan bahasa Inggris meluncur bertubi-tubi dengan lancar pula. Kami memasuki ruangan yang telah penuh peserta. Beberapa pamong desa hadir. Tidak ketinggalan puluhan murid seumur sekolah SMP dan SMA. Aku duduk di bangku yang paling depan yang kebetulan kosong.

Kata-katanya, kalimatnya menunjukkan ia telah mahir berbahasa Inggris. Gayanya dalam menerangkan bahan yang tersusun secara sistematis lebih mirip dia pada pribadi guru. Tapi mengapa dai berpakaian ’urakan’ seperti itu? Tidak layak rasanya untuk penampilan guru. Ia hanya berkaos oblong, bercelana jeans yang ditambal pantatnya, dan bersandal jepit. Dia jaksa? Tidak mungkin!

Kuamat-amati wajahnya. Kepalanya kecil. Rambutnya tebal dan dahinya luas kelihatan seperti botak. Hidungnya normal, muka oval, bibir kecil tipis. Sorot matanya tajam. Di keningnya terlihat kerut-kerut dahi menandakan ia terlalu banyak berpikir atau mempunyai masalah yang berat.

Ya, aku ingat, aku pernah bretemu dengannya di masjid kejaksaan. Kami duduk bersebelahan. Ketika kujabat tangannya, dia menerimanya dan tunduk lagi untuk munajad. Waktu itu dia memakai seragam coklat muda dengan bermacam-macam tambalan tanda yang tidak kuketahui artinya. Di pundaknya masing-masing ada bintang kuning keemasan. Benarkah ia yang kuhadapi saat ini? Mengapa pula orang itu mengurusi soal kursus di desa ini yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan profesinya sebagai seorang jaksa?

Semua penjelasan dari ceramah kursusnya tidak yang masuk dalam benakku. Hingga kursus selesai, yang kuketahui hanya pokok permasalahannya saja yaitu tentang Past Tense. Terlalu banyak pertanyaan dalam hatiku tentang orang itu. Semua masih berupa teka-teki. Entah kapan akan terjawab.

Pada hari Minggu esok harinya aku datang ke rumahnya. Rumah itu adalah rumah bambu yang sudah tampak hitam kecoklatan seperti tidak pernah dikapur. Rumput-rumput liar tumbuh dengan lebatnya di halaman.

Aku langsung menuju pintu tua yang tertutup, dan kuketuk berkali-kali. Tidak ada jawaban. Kukeraskan ketukanku berkali-kali.... Tetap masih tidak ada jawaban. Aku membuka pintu itu. Gelap di dalam ruang depan itu. Kursi-kursi tua berdebu tak teratur tempatnya. Aku mencoba untuk masuk lagi. Kelihatannya makin lama makin kotor dan gelap. Rumah hantu, pikirku.

Aku masuk lagi ke dalam ruang yang lebih dalam. Di kamar ini lain sekali keadaannya dengan kamar yang lain. Tidak percaya hatiku. Almari-almari dan semua perabot tertata rapi. Ada tempat tidur yang hanya berupa tikar namun kelihatan bersih. Buku-buku tebal tertata tegak pada kayu yang di tata seperti rak buku. Aku ingin membuka-buka buku itu namun kuurungkan. Aku keluar lagi, dan menuju rumah tetangga yang terdekat.

”Tadi pagi ia pergi sambil membawa pancing”, seorang tetangganya menjelaskan, ”Mungkin sedang mancing!”.

”Kapan akan pulang?”.

”Biasanya sore baru kembali”.

”Tempatnya di mana?”.

”Di bawah obil”.

Aku segera pulang. Kubawa peralatan pancing dan mencari cacing untuk umpan. Aku menuju obil yang memang jaraknya kurang lebih hanya setengah kilometer.

Memang betul ia sedang memancing di sana. Dengan memberanikan diri aku mendekatinya. Dia memakai topi ”cekuthuk“, kaos oblong, celana jeans bertambal di pantatnya serta sandalan jepit. Hampir sama keadaannya dengan kemarin. Hanya topi itu yang... baru.

”Pak Harjo! Pak Harjo...!”

”Ada apa? ” dia menoleh kepadaku dan menjawab.

”Bolehkah, saya memancing di sini?”.

“Ya. Silahkan. Tapi……jangan berisik. Nanti ikan-ikan itu akan kabur semua”.

Aku segera memasang umpan dan melemparkannya ke air sungai sepuluh langkah ke hilir dari pancing-pancingnya. Walesan-walesan kutancapkan di tebing sungai itu. Aku kembali mendekatinya. Dia masih memandang gejolak air dengan asyiknya.

”Sudah memperoleh ikan banyak, Pak?”.

“Cuma mendapat dua ekor “bethik” kecil-kecil”, Dia menjawab lalu memandangku tiba-tiba. Aneh sekali pandangannya. Kemudian memandang kea rah sungai lagi. Takut aku melihat pandangan matanya tadi. Dia memandangku seperti benda yang sangat jauh tempatnya. Mungkinkah dia kumat? Tidak! Dia tidak akan seperti itu.

”Maaf, Pak. Kata orang kampung, bapak adalah seorang jaksa. Mengapa bapak ada di sini?”. Aku mulai menanyakan maksudku.

Tiba-tiba ia menatapku lagi. Aku berpaling pura-pura memandang ke tempat pancinganku tertambat. Dia masih memandangi aku. Kami tidak saling bicara lagi. Ingin aku segera menghilang dari tempat itu. Dan, untunglah dia menghampiri pancingnya karena ada ikan yang tersangkut. Tapi aku masih belum berani berbicara lagi.

kesunyian.

”Tapi, saya rasa... saya pernah bertemu bapak di masjid kejaksaan...”, aku memprotes.

”Kamu salah lihat barangkali. Masak ada jaksa awut-awutan seperti saya ini?” dia meyakinkan pendapatnya.

Aku tidak berkutik atas jawaban ini. Mungkin aku ‚kecele’. Mungkin bukan orang ini. Tapi, bagaimana berita orang kampung? Salahkah berita itu? Atau mungkin dia bermain sandiwara.

”Baiklah. Memang aku bekerja di sana”, dia menjawab pertayaanku lagi, ”Tapi sebelum kujawab pertanyaanmu jawablah dahulu pertanyaanku tentang namamu, alamatmu, dan pekerjaan atau sekolahmu!”

”Saya adalah Yono, adik bungsu pak lurah desa ini. Saya masih berkuliah dan bekerja di kota”, saya berterus terang menjawabnya.

”Baiklah. Sekarang janjiku kuturuti,” dia mulai menceritakan kesedihannya, ”Mungkin kamu bisa mengambil hikmahnya, dan semoga kamu tidak mengalami nasib seperti aku”.

”Dulu aku punya cita-cita ingin menjadi orang yang terpandang. Entah menjadi apa saja sekuat kemampuanku, setelah itu kembali lagi ke desa. Orang tuaku selalu menanamkan nilai-nilai budaya mistik serta menganjurkan untuk selalu hidup dalam suasana yang tentram.

Kebencian-kebencian kepada kehidupan kota pun ditanamkan kepadaku. Hal ini bertolak belakang dengan keadaan yang kuhadapi yaitu aku harus menumpang pada orang lain dulu untuk mencapai cita-cita. Segala kehidupan yang lalu lalang di kota tidak pernah mengendap di batinku. Semuanya jelek. Aku menginginkan hidup di desa dengan tenang layak seperti orang tuaku.”.

”Masalah kehidupan di desa memang tidak sekompleks dan serumit masalah kehidupan kota. Semua masalah di desa dapat digantungkan di daun-daun dan ranting pohon dan menguap oleh desir angin, begitulah ibaratnya. Namun kenyataan sudah berjalan tanpa kemudi. Cita-citaku tercapai, dan jadilah aku seorang jaksa. Aku kawin dengan wanita kota meski berlawanan dengan kata hatiku. Kini ada dua orang anakku. Yang nomor satu sudah sebaya denganmu. Pandangan mereka bertolak belakang denganku. Mereka materialistis. Terpaksa aku menjalani pekerjaan itu karena semua keahlianku tidak berguna bagi kehidupan desa.”

”Aku turuti kemauan mereka dengan menambah penghasilan sebagai dosen di Universitas swasta. Aku melakukan itu sudah dua puluh tahun. Kini aku tidak tahan hidup seperti itu. Kutinggalkan mereka. Toh mereka bisa mengurusi dirinya sendiri.”

”Kalau kamu sudah bercita-cita tinggi, kamu harus siap untuk menghadapi kenyataan hidup di kota dan hidup di jaman modern ini. Jangan merasa lelah menghadapi problema hidup bila kamu tidak ingin tergilas roda kehidupan. Kalau merasa profesimu tidak mendapat tempat di desa jangan harapkan dirimu akan kembali ke desa. Itu berarti, kau telah ketinggalan langkah”.

”Memang aku mampu menghadapi problema yang kompleks itu. Namun aku harus terus berpikir dan berpikir lagi yang lebih keras untuk berlaga dengan problema yang juga makin kompleks. Siang malam aku berpikir mampukah aku selamanya menghadapi semua itu? Aku yang biasa ditempa dengan kedamaian desa, kecapaian menghadapi semua itu. Kini aku lelah, lelah sekali. Aku ingin mengaso untuk waktu yang panjang. Aku kembali ke desa tempat kelahiranku. Semua orang tuaku telah tiada sepuluh tahun yang lalu“.

Dia bercerita panjang sekali. Sebentar-sebentar menarik napas panjang, sekali-sekali ia merenung. Suara-suaranya makin sering terpotong, sulit keluar seolah tertelan kembali. Mukanya yang sejak tadi dihadapkan pada tebing sungai di seberang sana kini menunduk lama sekali. Kulirik dia, matanya basah. Rupanya dia bisa menangis.

Kami pulang saat terdengar bedug Dhuhur. Beberapa ekor ikan kami peroleh. Aku berjanji akan bertemu lagi dengannya. Entah kapan saatnya.

Beberapa minggu kemudian setiap aku libur selalu kusempatkan waktu untuk datang ke rumahnya. Tapi, yang kutemui hanya rumah dan pekarangannya saja yang makin tidak terurus. Ketika kutanyakan pada tetangga terdekat, dia telah kembali lagi ke kota. Mungkin dia telah teringat kembali pada istrinya, anaknya atau pekerjaannya. Sayang sekali aku tidak mengetahui alamatnya.

Aku berjalan di atas trotoar di tengah kota. Lalu-lalang ramai mengingatkan aku pada ketakutannya kepada kehidupan kota. Aku merasa terdapat beberapa persamaan dengannya. Mungkinkah aku akan mengalami seperti dia? Sambil melamun seperti itu aku berpapasan dengan seseorang. Aku berhenti sesaat. Aku merasa mengenalnya. Tapi mengapa dia acuh saja? Segera aku menghambur mengejar orang itu. Lariku kupercepat sambil menyibak orang yang lalu-lalang. Semua orang memandangku curiga. Aku khawatir dikira pencopet atau penjambret. Aku tidak peduli. Dia lebih penting.

Orang yang kukejar hilang, muncul di antara lalu-lalang orang yang lewat. Kemudian orang itu nampak berhenti di tepi jalan mencegat angkutan kota. Sialan ! Aku terlambat ! Aku pun segera mencegat angkutan kota yang lain.

Kendaraan yang kubuntuti hulang bercampur aduk dengan kendaraan yang lain. Lebih sial lagi aku lupa warna dan lyn angkota itu. Setiap ada angkutan kita yang menurunkan penumpang di depan selalu kuperhatikan kalau-kalau orang itu di antara mereka. Namun hasilnya tetap nihil.

Hari ini Minggu pagi kurang lebih pukul tujuh pagi. Hujan rintik-rintik sisa tadi malam masih terasa. Angin bertiup menambah dinginnya pagi. Kukayuh sepeda tuaku ke arah selatan kemudian melewati jalan searah dengan sungai.

Di depan terlihat ada seorang berjalan di atas tanggul sungai. Dilihat dari kaos, celana, dan topinya mengingatkan aku pada orang itu. Kubuntuti dia, makin lama makin dekat dengannya. Tidak salah lagi, dia lah orang itu. Aku heran mengapa dia muncul lagi setelah beberapa minggu menghilang.

Setelah dekat sekali aku menyapanya. Lama tidak ada jawaban. Kuulangi panggilanku. Dia menghentikan langkahnya. Kami saling berpandangan sejenak. Tidak ada reaksi pada raut mukanya. Segera dia melesat meninggalkanku. Langkahnya dipercepat, menyusuri tanggul sungai yang terdengar semakin bergemuruh karena airnya hampir meluap. Aku sangat mengkhawatirkannya. Jangan-jangan dia sangat sedih dan berusaha mengakhiri hidupnya.

Hujan pagi semakin deras. Bajuku telah basah kuyup. Aku tersentak. Kulihat dia melambaikan tangan memanggilku. Saat sampai di depannya dia minta bonceng pulang. Di sepanjang jalan diceritakan pakansi panjangnya yang mengasyikkan.

Sampai di jalan desa aku ditertawakan anak-anak kecil, kata mereka aku sedang membonceng orang sinting. Mungkin juga, namun kelihatannya orang ini juga terlalu pandai untuk mereka. Dia telah tercerabut dari desa yang melahirkannya.

---

Mojokerto, 12 Oktober 1986

- bethik : nama sejenis ikan air tawar

- kecele : salah kira saat melihat sesuatu

- obil : jembatan kereta api

- cekuthuk : topi kerucut dari daun tebu

- walesan : kayu kail




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Masukan dan Komentar Anda