Selamat Datang,

Blog ini berisi segala wacana yang berhubungan dengan bahasa dan sastra Indonesia. Di antaranya tentang wacana bahasa dan sastra Indonesia, bahan ajar, pusi, cerpen, penelitian, lomba menulis / mengarang, hingga tes kebahasaan.
Saya berharap ada kritik dan saran Anda yang dapat menyempurnakan blog ini.

Bagi adik-adik, silakan membaca atau mengkopi isi blog ini untuk keperluan tugas atau lainnya. Sesuai dengan etika ilmiah, silahkan kutip sumbernya yaitu dari blog ini.

Terima kasih atas kunjungan Anda.

Blogmaster



Cara Cepat Mencari Blog Ini>>>>>>>>>>> Ketikkan Wacana Bahasa pada Google
Model Membaca Puisi Siswa Kelas XIIA1

14 Juni 2008

Urgensi Bahasa Indonesia Baku

Mengapa harus menggunakan bahasa Indonesia baku ? Demikian salah satu pertanyaan siswa saya saat mengajar beberapa waktu yang lalu. Hal ini mungkin didasari oleh pemikiran bahwa menggunakan bahasa Indonesia baku membuat 'ribet'. Banyak dari kita yang tidak 'PD" apakah telah menggunakan bahasa Indonesia baku ataukah belum.
Pengertian bahasa baku adalah bahasa yang dijadikan standar, patokan, atau tolok ukur sebagai bahasa yang baik dan benar. Kebakuannya mengacu pada kaidah fonologis, morfologis, sintaksis, dan semantis. Acuan kaidahnya telah dirumuskan dan ditetapkan Pusat Bahasa meliputi Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Tatabahasa Indonesia Baku.
Bahasa Indonesia baku digunakan hanya dalam konteks resmi, yaitu : (a) situasi resmi, misalnya rapat, pidato, kuliah/mengajar, dan sejenisnya; (b) wacana teknik, misalnya laporan penelitian, skripsi, tesis, proposal, dan sejenisnya; (c) berbicara dengan orang yang dihormati, dan (d) berbicara dengan orang yang baru dikenal.

Urgensi
Urgensi bahasa Indonesia baku tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa wilayah penggunaan bahasa Indonesia yang sangat luas. Hal ini diperparah oleh realitas geografisnya yang terpisah-pisah oleh pulau-pulau. Padahal pemisahan oleh kondisi geografis membuka peluang semakin besarnya pada perbedaan budaya dan bahasanya. Kabarnya, di wilayah Indonesia bagian Timur, hanya dipisahkan oleh sungai atau bukit saja bahasa daerah mereka menjadi berbeda. Apalagi dipisahkan oleh laut.
Meskipun menggunakan bahasa Indonesia, pengaruh kedaerahannya masih tampak. Dalam berbahasa Indonesia mereka masih menggunakan intonasi, kosakata, bentuk kata, dan tatakalimat bahasa daerahnya. Hal ini memang dianggap tidak baku.
Gambaran mudahnya, kita bayangkan para anggota MPR atau DPR kita pada saat rapat. Misalnya, mereka menggunakan bahasa Indonesia, namun masih dipengaruhi dialek masing-masing. Betapa runyamnya. Wakil rakyat kita akan tidak saling memahami sebagian dari pembicaraan mereka. Apalagi bila disiarkan secara langsung melalui televisi. Kita sebagai pemirsanya juga tidak memahaminya.
Karena itulah diperlukan bahasa yang bisa dipahami oleh semua penutur bahasa Indonesia. Bahasa tersebut adalah bahasa yang dijadikan patokan / standar bersama. Itulah bahasa Indonesia baku.

Bahasa Tidak Baku
Di masyarakat memang ada bahasa yang tidak standar atau tidak baku. Bahasa-bahasa ini dipengaruhi oleh dialek setempat atau bahasa asing, idiolek, atau bahasa gaul. Bahasa ini tetap harus eksis dan tidak perlu dihilangkan. Dalam situasi tidak resmi (santai) kita masih perlu menggunakan bahasa ini. Justru akan sangat kaku bila kita menggunakan bahasa baku. Dalam hal ini keberadaan bahasa Indonesia baku tidak serta-merta harus menghapuskan bahasa tidak baku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Masukan dan Komentar Anda