Selamat Datang,

Blog ini berisi segala wacana yang berhubungan dengan bahasa dan sastra Indonesia. Di antaranya tentang wacana bahasa dan sastra Indonesia, bahan ajar, pusi, cerpen, penelitian, lomba menulis / mengarang, hingga tes kebahasaan.
Saya berharap ada kritik dan saran Anda yang dapat menyempurnakan blog ini.

Bagi adik-adik, silakan membaca atau mengkopi isi blog ini untuk keperluan tugas atau lainnya. Sesuai dengan etika ilmiah, silahkan kutip sumbernya yaitu dari blog ini.

Terima kasih atas kunjungan Anda.

Blogmaster



Cara Cepat Mencari Blog Ini>>>>>>>>>>> Ketikkan Wacana Bahasa pada Google

Puisi

Model Membaca Puisi Siswa Kelas XIIA1

10 November 2011

Pantun Masuk UNAS, Mengapa Sulit? (2)

Pantun Kilat (Karmina)
Pantun kilat atau pantun singkat juga disebut karmina. Pantun ini disebut pantun kilat karena hanya terdiri atas dua baris dalam satu bait. Pantun jenis ini biasanya digunakan untuk menyampaikan sindiran, ejekan, atau kejenakaan karena ungkapannya langsung dan lebih pendek pengucapannya.
Ciri–ciri karmina adalah :
a. terdiri atas 2 baris dalam tiap bait dan dapat ditulis dalam 4 baris,
b. bila ditulis dalam 2 baris : baris ke-1 merupakan sampiran, dan baris
    ke-2 merupakan isi;
    bila ditulis dalam 4 baris : baris ke-1 dan ke-2 merupakan sampiran, 
    dan baris ke-3 dan ke-4 merupakan isi
c. bila ditulis dalam 2 baris : bersajak /a-a/ bila ditulis dalam 4 baris : 
    bersajak /a-b-a-b/
d. memiliki jeda setiap baris yang dapat ditandai dengan koma(,),
    Contoh :
    Bila dituliskan dalam 2 baris :
    (1) dahulu parang, sekarang besi /a/
    (2) dahulu sayang, sekarang benci /a/
    Bila dituliskan dalam 4 baris menjadi :
    (1) Dahulu parang, /a/
    (2) sekarang besi, /b/
    (3) dahulu sayang, /a/
    (4) sekarang benci. /b/

    Contoh lainnya bila dituliskan dalam 2 baris :
    gendang gendut, tali kecapi /a/
    kenyang perut, senanglah hati /a/
    
    banyak udang, banyak garam /a/
    banyak orang, banyak ragam /a/
      
    dahulu parang, sekarang besi /a/
    dahulu sayang, sekarang benci /a/
    
    ada ubi, ada talas /a/
    ada budi, ada balas /a/

Talibun
Talibun juga merupakan pantun. Jumlah baris tiap baitnya minimal enam baris. Ciri khas talibun adalah jumlah baris tiap bait selalu genap, yaitu 6, 8, 10 dan 12 larik atau lebih. Namun demikian, umumnya talibun terdiri atas 6 atau 8 baris per bait. Aturan persajakannya seperti pantun. Jika jumlah barisnya 6 maka persajakannya /a-b-c-a-b-c/, jika jumlah barisnya 8 maka persajakannya /a-b-c-d-a-b-c-d/, dan seterusnya.
Keberadaan talibun perlu karena pantun yang hanya terdiri atas 4 baris tiap bait dirasa kurang memadai untuk mengungkapkan satu kesatuan ide. Karena itulah dikembangkan menjadi 6 baris atau lebih pokoknya genap, tanpa meninggalkan kaidah keindahan bentuk pantun.
Sebagaimana pantun biasa dan karmina, talibun juga sering digunakan dalam acara berbalas pantun. Dalam tradisi semacam itu, pengungkapan ide / atau gagasan dalam bentu dialog menjadi aspek sangat penting. Pemantun (tukang pantun) merasakan kekurangan kata / kalimat kalau harus bertahan dalam pemakaian pantun baris per bait.
     Contoh :
     Talibun 6 baris :
      kalau pandai berkain panjang /a/ 
      lebih baik kain sarung /b/
      jika pandai memakainya /c/
      kalau pandai berinduk semang /a/
      lebih umpama bunda kandung /b/
      jika pandai membawakannya /c/

      Talibun 8 baris
      tak alu sebesar ini /a/
      alu tertumbuk di tebing /b/
      kalau tertembuk di pandan /c/
      boleh ditanami tebu /d/
      tak malu sebesar ini /a/
      malu tertumbuk di kening /b/
      kalau tertumbuk di badan /c/
      boleh ditiup dengan baju /d/

Seloka (Pantun Berkait) 
C. Hoykaas (1930 : 83) berpendapat bahwa seloka berasal dari kesusastraan India dan pada karya sastra aslinya menggunakan bahasa Sanskerta. Karya sastra isinya mengandung kiasan atau ibarat. Para ahli sastra lainnya misalnya B. Simorangkir Simanjuntak, Amir Hamzah, dan JS Badudu menambahkan bahwa seloka termasuk dalam golongan pantun yaitu pantun berkait (Badudu, 1984: 12-13). Keterkaitan dalam seloka dibuktikan dengan adanya baris dari suatu bait yang diulang kembali pada suatu baris pada bait berikutnya.
     Contoh :
     buaian kendur jangan ditarik,
     bagaikan teguh buatan sendiri,
     tuan Gubernur yang baik hati,
     pandai sungguh memerintahkan negeri.

     bagaikan teguh buatan sendiri,
     tali kecil jangan dikerat,
     pandai sungguh memerintahkan negeri,
     tahu pula mengambil hati segala rakyat.

     tali kecil jangan dikerat,
     sama tanduk memintal benang,
     tahu pula mengambil hati segala rakyat,
     semuanya duduk di dalam senang.

Dari kutipan di atas, terbukti ada kaitan yang merupakan bentuk perulangan antara baris ke-2 bait sebelumnya dengan baris ke-1 bait sesudahnya, dan baris ke-4 bait sebelumnya dengan baris ke-3 bait sesudahnya.
Sebagaimana kaidah penulisan pantun, seloka umumnya bersajak /a-b-a-b/. Contohnya pada bait ke-2 dan ke-3 di atas. Seloka juga mengandung sampiran pada baris ke-1 dan ke-2, dan isi pada baris ke-3 dan ke-4.
Namun demikian dalam beberapa bukti ditemukan pula seloka yang bersajak /a-a-a-a/ sebagaimana contoh bait ke-1 di atas. Ada pula ada seloka yang berbentuk syair sehingga tidak mengandung sampiran melainkan semua isi. 
     Misalnya : 
     sudah bertemu kasih sayang,
     duduk terkurung malam siang,
     hingga setapak tiada renggang,
     tulang sendi habis terguncang.
                  (Riyadi dkk., 2008:41)

(BERSAMBUNG)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Masukan dan Komentar Anda