Selamat Datang,

Blog ini berisi segala wacana yang berhubungan dengan bahasa dan sastra Indonesia. Di antaranya tentang wacana bahasa dan sastra Indonesia, bahan ajar, pusi, cerpen, penelitian, lomba menulis / mengarang, hingga tes kebahasaan.
Saya berharap ada kritik dan saran Anda yang dapat menyempurnakan blog ini.

Bagi adik-adik, silakan membaca atau mengkopi isi blog ini untuk keperluan tugas atau lainnya. Sesuai dengan etika ilmiah, silahkan kutip sumbernya yaitu dari blog ini.

Terima kasih atas kunjungan Anda.

Blogmaster



Cara Cepat Mencari Blog Ini>>>>>>>>>>> Ketikkan Wacana Bahasa pada Google

Puisi

Model Membaca Puisi Siswa Kelas XIIA1

08 Juni 2012

“Meski Sama Kuningnya, Kita Tidak Mungkin Bisa Mengasah Batubata Menjadi Emas”



               Adalah siswa saya Rima Faiqoh Agustine yang memenangi Juara 2 Tingkat Nasional Lomba Blog Remaja di Gramedia dan Kompas tahun 2008 lalu. Ia pun juga memenangi lomba bidang yang sama tingkat Provinsi Jawa Timur saat Olimpiade Madrasah tahun 2009. Waktu itu juara pertamanya adalah Sarjana S1 dan Juara ketiganya Mahasiswa D3 Arsitektur. Padahal siswa saya masih duduk di MA (setingkat SMA) kelas 1. Karena prestasi dan sertifikat perolehannya ia diterima tanpa tes (jalur undangan) di ITS Surabaya jurusan yang pas yaitu Teknik Informatika. Memang aneh dan membanggakan untuk ukuran ‘sekolah udik’ macam kami.
              

Hal yang sama juga terjadi pada siswa saya Ilham Ubaidillah. Saat lomba desain majalah sekolah tingkat provinsi  terpaksa karya siswa ini tidak diakui karena dianggap tidak wajar (Diduga bukan karya sendiri padahal dia memang jago di bidang itu). Karyanya terlalu bagus dan mendekati profesional untuk karya seukuran anak kelas 1 setingkat SMA. Selanjutnya ada lomba desain presentasi media pembelajaran di Kemenang tingkat nasional untuk guru. Sebagai gebrakan sebagaimana di Depdiknas, saya menyertakannya karena karyanya bagus sekali. (Penulis sudah tidak boleh ikut lagi karena sudah pernah memenangi Juara 1) Dia tidak menang karena event lomba itu untuk guru. Namun dia tetap memperoleh piagam penghargaan keikutsertaan.


Untuk lomba yang sama di level kabupaten Juara 1-nya disapu bersih olehnya. Padahal pesaing dari sekolah lain yang memiliki jurusan multimedia malah tidak bisa berbicara banyak di event ini. Karena prestasinya tersebut ia diterima tanpa tes (jalur undangan) di Unibraw Malang untuk jurusan Teknik Informatika.
Prestasi siswa yang luar biasa tersebut sangat membanggakan bagi saya. Sebagai guru pembinanya yang juga sering malang melintang dalam lomba nasional (meskipun banyak kalahnya daripada menangnya), pengalaman tersebut saya motivasikan para siswa. Beberapa di antara mereka merasa ‘terbakar’ jiwanya untuk mengikuti jejak saya. Jadilah mereka maniac-maniac komputer yang akhirnya saya wadahi dalam ekstrakurikuler “desain multimedia”
Permasalahannya adakah yang salah dalam langkah saya saya? Dalam blog ini (guraru.org) bertebaran artikel yang mengulas topik bagaimana menjuarakan siswa. Pak Isna Puryanta mengingatkan bahwa kita memang harus berhati-hati dalam memotivasi. Bila tidak sesuai dengan kondisi dan kemampuan justru tidak berarti apa-apa. Pernyataan ini memang terbukti. Banyak di antara siswa saya berputus asa dan akhirnya berpindah ke ekstrakurikuler lainnya. Dalam hal ini pun saya tidak mencegahnya. Saya berpikir “meski sama kuningnya, saya tidak mungkin bisa mengasah batubata menjadi emas”.
Dalam hal ini premis hubungan harapan dan prestasi oleh Robert Rosenthal, pakar pendidikan dari Universitas Harvard Amerika Serikat (dalam artikel Mas Okky Fajar Trimaryana) tidak bisa saya buktikan secara menyeluruh. Justru mereka yang memang maniac mampu melesat sangat jauh melampaui harapan saya. Ibarat guru silat yang punya 50 jurus saja ketika semua jurus sudah habis,  maka saya minta mereka belajar pada guru silat yang tak terhingga, yaitu internet. Padahal himbauan dan usaha menjuarakan mereka sudah saya laksanakan mulai mengidentifikasi potensi, membangkitkan potensi diri, pembinaan intensif, hingga aktualisasinya secara maksimal sudah dilakukan.
Karena itu jangan terlalu berharap banyak pada siswa agar memiliki potensi tertentu. Mungkin mereka punya potensi lain yang akan dapat dikembangkan oleh guru lainnya. Hal ini sebagaimana prinsip Kecerdasan Majemuk.

               

2 komentar:

  1. Assalamualaikum.
    Pak ini mahasiswa UT Bojonegoro
    tolong pak saya dikirimi cara membuat blog seperti milik panjenengan.

    BalasHapus
  2. makasih yah atas informasinya, jangan lupa kunjungi blog aku juga.
    QUEENXXX92

    BalasHapus

Masukan dan Komentar Anda