Selamat Datang,

Blog ini berisi segala wacana yang berhubungan dengan bahasa dan sastra Indonesia. Di antaranya tentang wacana bahasa dan sastra Indonesia, bahan ajar, pusi, cerpen, penelitian, lomba menulis / mengarang, hingga tes kebahasaan.
Saya berharap ada kritik dan saran Anda yang dapat menyempurnakan blog ini.

Bagi adik-adik, silakan membaca atau mengkopi isi blog ini untuk keperluan tugas atau lainnya. Sesuai dengan etika ilmiah, silahkan kutip sumbernya yaitu dari blog ini.

Terima kasih atas kunjungan Anda.

Blogmaster



Cara Cepat Mencari Blog Ini>>>>>>>>>>> Ketikkan Wacana Bahasa pada Google

Puisi

Model Membaca Puisi Siswa Kelas XIIA1

07 September 2016

Penggunaan Evaluasi Pembelajaran Murah Berbasis Android : Urgensi, Kendala, dan Solusinya



Penggunaan Evaluasi Pembelajaran Murah
Berbasis Android : Urgensi, Kendala, dan Solusinya




BAB I PENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang
Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang juga dikenal dengan istilah Komputer Based Test (CBT) secara online pertama kali dilaksanakan pada tahun 2014 di SMP Indonesia di Singapura dan di Kuala Lumpur. Hasilnya cukup menggembirakan khususnya dalam meningkatkan literasi siswa terhadap TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi. Keberhasilan ini dilanjutkan pada tahun pelajaran 2015/2016 pada beberapa SMA/MA dan SMP/MTs baik negeri maupun swasta serta luar negeri, yaitu berjumlah 556 sekolah, yaitu 42 SMP/MTs, 135 SMA/MA, dan 379 SMK. Semua mencakup dalam 29 provinsi dan luar negeri.[1]
Sesuai dengan Undang-Undang No.20 Tahun 2005 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan ujian nasional adalah untuk mengukur pencapaian komptensi secara nasional dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Selain itu, ujian nasional dilaksanakan untuk melaksanakan amanah PP 19/2015 yang telah direvisi menjadi PP 32/2014 dan PP 13/2015 bahwa ujian nasional merupakan subsistem penilaian dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang menjadi salah satu tolok ukur pencapaian SNP dalam rangka penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan.[2] Adapun manfaat dari ujian nasional bahwa hasilnya akan digunakan untuk : (a) pemetaan mutu program pendidikan dan  atau satuan pendidikan. (b) pertimbangan seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, dan (c) dasar pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan untuk pemetaan dan peningkatan mutu pendidikan.
Memang, pemerintah memandang UNBK memiliki banyak keunggulan, di antaranya :
1) Lebih kecil kemungkinan terjadinya keterlambatan pengiriman soal, tertukarnya soal, dan ketidakjelasan hasil cetak soal;
            2)  Tidak ada kerumitan dalam pengumpulan dan koreksi LJUN;
3)  Gambar-gambar dalam soal menjadi jelas;
4)  Lebih mengakomodasikan siswa yang memiliki ketunaan, karena gambar bisa diperbesar;
5)  Hasil UN bisa diumumkan dengan lebih cepat;
6)  Lebih mudah pengamanan dan penyediaan logistik.[3]


Motto UN tahun pelajaran 2015/2016 adalah Ujian Nasional Jujur dan Berprestasi atau lebih populer dengan istilah “Prestasi Ya, Jujur Harus”. Motto ini menyatakan bahwa UN harus mengutamakan prinsip kejujuran dan tanpa melupakan prestasi. Hal ini diperlukan mengingat disinyalir pelaksanaan ujian nasional banyak terjadi kecurangan demi mendapatkan prestasi (nilai) yang baik. Bahkan kecurangan tersebut cenderung sistemik. Di sinilah perlunya diadakan UNBK, yaitu untuk mengeliminasi kecurangan ujian nasional.
Pengalaman penerapan UNBK tersebut ternyata banyak kendalanya. Sekolah-sekolah yang melaksanakan adalah yang telah siap dari sisi infrastruktur dan sumber daya manusianya. Adapun sekolah-sekolah yang belum siap tidak diminta untuk memaksakan diri UNBK melainkan masih boleh Ujian Nasional berbasis Kertas dan Pensil (UNKP). Ketidaksiapan tersebut tentunya karena pengadaan laboratorium komputer, server, beserta UPS-nya  membutuhkan dana yang relatif sangat mahal, yaitu sekitar 250 juta untuk satu laboratorium dengan 30 unit.[4] Beban ini sangat berat bila dibebankan tiap satuan pendidikan.
Penyelenggaraan UNBK tahun itu juga tidak dapat dilaksanakan murni online, melainkan hanya setengah online. Artinya, soal UNBK diunduh dulu dari server pusat ke server sekolah. Jadi sekolah mengadakan UNBK secara offline. Setelah selesai, barulah sekolah mengunggah hasil UNBK tersebut ke server pusat.
Hasilnya secara umum prestasi siswa menurun. Berdasarkan data Kemendikbud, pada tahun 2015 nilai rata-rata siswa SMP sebesar 62,18 persen, sedangkan pada tahun 2016 nilai rata-rata UN SMP senilai 58,57 persen atau turun 3,6 poin dari tahun lalu. Angka yang menurun tersebut menurut Mendiknas Anies Baswedan karena ada sekolah yang mengalami peningkatan nilai Indeks Integritas UN (IIUN) sebanyak 72 persen. Rinciannya sebanyak 21,16 persen sekolah yang memiliki nilai IIUN yang naik yang diikuti nilai UN yang meningkat. Serta sebanyak 50,96 persen sekolah yang memiliki IIUN (tingkat kejujurannya) naik tetapi nilai UN-nya turun. Kemudian ada 13,61 persen sekolah yang menggunakan kecurangan secara masif dan terstuktur dan 14,27 persen sekolah yang siswanya melakukan kecurangan secara individu.[5]
Bertolak dari uraian di atas, jelaslah betapa urgennya  UNBK sebagai sarana menciptakan generasi yang memiliki integritas / kejujuran yang tinggi. Namun, penggunaan teknologi yang relatif sangat mahal dan rumit merupakan kendala yang juga tidak mudah diatasi.
Pada ujian nasional tahun 2016/2017 mendatang Kementerian Agama Jawa Timur memberikan pertanda kesiapan mengikuti UNBK. Hal ini berarti sangat banyak dibutuhkan dana untuk mempersiapkannya. Di sisi lain, iklim belajar mandiri juga perlu disiapkan. Untuk itu evaluasi pembelajaran yang mengarah pada kemandirian siswa juga harus dibiasakan.
Dengan pengalaman penulis sebagai praktisi pembelajaran online [6], sebenarnya masalah dapat diatasi dengan evaluasi pembelajaran berbasis android. Evaluasi pembelajaran ini praktis, mudah, dan relatif murah dilaksanakan dan dilatihkan.[7]

1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
a.       Bagaimanakah desain evaluasi pembelajaran berbasis android?
b.      Apakah urgensi evaluasi pembelajaran berbasis android?
c.       Apakah kendala evaluasi pembelajaran berbasis android?
d.      Apakah solusi evaluasi pembelajaran berbasis android?

1.3    Tujuan Penulisan
Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
a.       Bagaimanakah desain evaluasi pembelajaran berbasis android?
b.      Apakah urgensi evaluasi pembelajaran berbasis android?
c.       Apakah kendala evaluasi pembelajaran berbasis android?
d.      Apakah solusi evaluasi pembelajaran berbasis android?

1.4    Manfaat Penulisan
a.  Bagi Penulis
1)  Sebagai sarana menuangkan ide dan gagasan untuk pengembangan profesionalisme guru.
2)  Sebagai pelengkap portofolio lomba Guru Madrasah Berprestasi Tahun 2016
b.   Bagi Madrasah
1)  Dapat menjadi masukkan untuk pengembangan pembelajaran di madrasah
2)  Dapat menjadi pertimbangan dalam menyiapkan sarana dan prasarana ujian nasional
c.   Bagi Pemerintah
      Dapat menjadi masukkan untuk penentuan kebijakan, khususnya yang berhubungan dengan evaluasi pembelajaran




BAB II PEMBAHASAN

2.1 Desain Evaluasi Berbasis Android
a) Android dalam Pembelajaran
            Istilah ‘android’ semula mengacu pada pengertian robot yang memiliki  kecerdasan buatan (artificial intelligence).  Saat ini pengertiannya adalah salah satu sistem operasi yang biasanya dipakai dalam perangkat (gadget) yang logonya robot.
            Semula android adalah milik perusahaan di Silicon Alley yang bernama Android Inc. Pada tahun 2005, Google mengakusisi sistem operasi ini dan mencanangkannya sebagai sistem operasi yang terbuka (open source). Sebagai konsekuensinya, siapa pun boleh memanfaatkan sistem operasi ini secara gratis, bahkan mengembangkannya.
            Sistem operasi ini tidak hanya digunakan untuk ponsel, tetapi juga perangkat elektronik lainnya. Di antaranya smartphone, tablet, netbook, MP4, TV internet, dan sejenisnya. Fungsinya pun juga beragam, yaitu : game, berita, portal iklan, internet, dan lain-lain. Sementara itu penggunanya tidak dibatasi oleh status, ras, jenis kelamin, bahkan usia.
            Dalam pembelajaran, android juga telah dipakai sebagai piranti (gadget) untuk menyimpan sumber pembelajaran, membaca dan mengerjakan, serta mengirimkan hasil pembelajaran. Bahkan saat ini banyak sekali sumber-sumber yang berbasis laman / website sudah dibuat pula dalam versi androidnya.
            Salah satu keunggulannya yang portable, ringan, harganya relatif murah, dan sangat mudah dibawa kemana-mana menjadikan piranti ini lebih popular dan diminati.

            b) Desain Evaluasi Pembelajaran Berbasis Android
            Sebenarnya  ada beberapa aplikasi yang dapat dibuat untuk evaluasi berbasis android. Evaluasi tersebut di antaranya :
(     (1)   Quipper School
Quipper School merupakan aplikasi yang memang diciptakan untuk pembelajaran online.
Aplikasi ini berasal dari Inggris dan kemudian dikembangkan di beberapa negara, di antaranya: Jepang, Korea, Thailand, Filipina, Vietnam, Mexico, Indonesia, dan beberapa negara lainnya. Keunggulannya : materi pelajaran beserta soalnya sudah sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Demikian pula hasil laporan evaluasinya.
Berikut ini tampilan desainnya.

                                                                  Tampilan Depan

                                                                  Tampilan Pilihan Kelas

Tampilan Soal

      (2)   Google Form
Google Form merupakan aplikasi yang diciptakan oleh Google. Keunggulannya : mudah dalam pembuatan quiz, namun soal dan laporannya kita sendiri yang harus membuatnya. Berikut ini tampilan desainnya.

                                                                    Tampilan Depan
                                                    
                                                                 Tampilan Soal Jadi

      (3)   Quiz Maker
Quiz maker merupakan aplikasi yang milik grup iSpring. Keunggulannya : mudah dalam pembuatan quiz, namun soal dan laporannya kita sendiri yang harus membuatnya. Berikut ini tampilan desainnya.

                                                                 Tampilan Editing Soal


                                                            Tampilan soal jadi
           
2.2 Urgensi Evaluasi Berbasis Android
            Keunggulan penggunaan evaluasi pembelajaran berbasis android antara lain:
a)      Jauh lebih murah dalam penyediaan sarana dan prasarananya
Hal ini karena hampir setiap siswa telah memiliki gadget ini. Umumnya mereka menggunakannya sebagai media sosial, khususnya mengirim sms, chatting, foto selfie, main game, dan sejenisnya. Kita harus mampu mengubah piranti gadget tersebut menjadi sarana belajar yang menyenangkan. Akan lebih bagus lagi bila kita mampu mengubahkan menjadi “android pembelajaran”.
b)      ‘Paperless’ artinya tidak menggunakan kertas-kertas
Dalam pelaksanaan ulangan harian, ulangan blok, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ujian akhir madrasah bahkan ujian nasional pasti tidak terlepas dari penggunaan kertas untuk mencetak soal. Biaya pengadaan kertas soal yang cukup besar pasti akan bisa dihindari bila kita sudah menerapkan evaluasi pembelajaran online.
c)      Lebih praktis dan mudah digunakan
Keunggulan tablet dan telepon seluler dibandingkan laptop dan komputer adalah karena mudah dibawa bahkan dimasukkan saku. Hal ini menjadikan piranti tersebut selalu berada di genggaman dan selalu ingin memanfaatkannya.
d)      Meningkatkan integritas siswa
Sebagaimana dalam uraian di atas, salah satu tujuan UNBK adalah terwujudnya integritas (kejujuran) siswa disamping prestasi juga penting. Hal ini untuk menghindari kecurangan dan kerjasama siswa dalam ujian. Beberapa aplikasi yang ada memiliki fitur : pengacak nomor soal dan pilihan jawaban, serta timer (pengatur waktu). Fasilitas ini mampu membuat soal yang berbeda sehingga membatasi ruang gerak siswa untuk berbuat curang dan bekerjasama.

2.3 Kendala Evaluasi Berbasis Android
Adapun kendala penggunaan evaluasi pembelajaran berbasis android antara lain:
a)      Kebutuhan teknisi komputer
Teknisi komputer sangat dibutuhkan khususnya yang memiliki kemampuan tentang koneksi jaringan internet, desain website, hosting dan domain, serta manajemen cpanel. Hal ini berkaitan bahwa soal-soal yang disusun menggunakan aplikasi yang sudah tersedia di internet. Soal-soal yang berhasil dibuat juga harus disimpan dengan sewa tempat (hosting) pada server tertentu dan mungkin juga ditayangkan pada website dengan domain tertentu.
b)      Kebutuhan perangkat gadget dan pulsa internet
Kebutuhan-kebutuhan ini tidak bisa dihindari. Gadget baru standar (Samsung, Asus, Lenovo, atau Oppo) saat ini berharga sekitar 2,5 hingga 3,5 juta rupiah. Sementara itu pulsa internet juga terjual bebas dan cukup terjangkau. Namun, melihat kenyataan cukup banyak siswa yang memilikinya, bahkan anak-anak juga punya sebagai alatpermainan maka gadget bukan barang mewah lagi.
c)       Dapat menurunkan nilai siswa yang tidak mandiri
Data yang diuraikan di atas menunjukkan bahwa penggunaan UNBK menurunkan prestasi siswa, khususnya para siswa yang tidak mandiri. Kesempatan untuk memperoleh nilai tinggi melalui cara-cara yang curang sudah semakin sulit. Hal ini seharusnya menjadi bahan instrospeksi bagi para siswa bahkan pihak sekolah untuk membudayakan kejujuran dalam berprestasi.
d)      Dapat mengakibatkan siswa melihat konten-konten negatif
“Ibarat pisau bermata dua” demikianlah dengan gadget. Literasi akan TIK akan meningkat atau tidak gaptek , menambah wawasan ilmu pengetahuan, menambah persaudaraan, dan sejenisnya merupakan manfaat gadget. Namun, kecanduan selfie, chatting, maniak game, bahkan menonton konten-konten porno adalah efek sampingnya. Karena itu tidak mengherankan beberapa madrasah, apalagi yang milik pesantren, melarang keras membawa apalagi menggunakan perangkat tersebut.

2.4 Solusi Evaluasi Pembelajaran Berbasis Android
Adapun solusi dari hambatan-hambatan penggunaan evaluasi pembelajaran berbasis android antara lain:
a)      Dibutuhkan teknisi komputer
Teknisi komputer dengan kemampuan tersebut di atas memang diperlukan. Namun tidak perlu banyak, alias cukup satu orang saja. Bila ada guru bidang studi lain yang mampu apalagi yang dengan senang hati mau berbagi ilmu dengan lainnya maka kebutuhan akan teknisi bisa dianulir.
b)      Dibutuhkan akan perangkat gadget  dan jaringan wifi
Kebutuhan-kebutuhan akan perangkat gadget yang mahal bisa bisa dihindari. Caranya dengan membeli barang bekas namun bermerek standar (Samsung, Asus, Lenovo, atau Oppo). Barang-barang tersebut bisa berharga sekitar 500 ribu hingga 1,5 juta rupiah..
Kebutuhan akan pulsa internet dapat diatasi oleh sekolah dengan berlangganan internet kemudian dipancarkan menjadi sinyal wifi. Adapun yang paling praktis dan sangat murah adalah berlangganan wifi.id dari Telkom dengan konsekuensi per potong pulsa ponsel seribu rupiah per hari setiap kali pemakaian. Namun, bila kita menggunakannya maka tidak terjadi pemotongan pulsa.
c)       Harus diciptakan budaya jujur dalam berprestasi
Jujur dalam berprestasi sebagai sebuah budaya tentu merupakan sebuah hasil dari proses pembiasaan yang relatif lama. Ketika sudah menjadi budaya maka pelaksanaannya akhirnya menjadi sebuah kebutuhan. Karena itu para siswa perlu dibiasakan mengikuti evaluasi pembelajaran yang tidak memberikan peluang melakukan kecurangan. Semakin sering hal ini dilakukan maka akan menjadi pembiasaan bahkan menjadi sebuah kebutuhan. Kebutuhan akan hidup yang jujur dalam mencapai tujuan.

d)      Harus diciptakan budaya “gadget untuk pendidikan”
Dampak negatif penggunaan gadget, misalnya kecanduan selfie, chatting, maniak game, bahkan menonton konten-konten porno sebenarnya bisa dihindarkan atau paling tidak dikurangi. Dalam hal ini perlu diciptakan budaya “gadget untuk pendidikan”. Caranya antara lain:
-    menghimbau para siswa untuk selalu bertanggung jawab dengan menghindari menggunakan aplikasi atau konten-konten negatif,
-    secara periodik para guru harus mengawasi aplikasi dan konten-konten dalam gadget siswa
-    meminta siswa menghapus aplikasi maupun konten negatif dalam gadget mereka sendiri
-    mengubah image “gadget untuk bermain” menjadi “gadget untuk belajar”
-    menghimbau para guru sering menggunakan gadget siswa sebagai sarana belajar mandiri yang cepat dan efektif.


BAB III  PENUTUP

3.1 Simpulan
Sesuai dengan Undang-Undang No.20 Tahun 2005 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan ujian nasional adalah untuk mengukur pencapaian komptensi secara nasional dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Pada saat ini pemerintah sudah melaksanakan UNBK. Tanpa melupakan  keunggulannya, ternyata UNBK juga memiliki keterbatasan dan kendala. Kendala utamanya adalah sangat mahalnya sarana dan prasarananya. Di samping itu, kurang praktis dalam pelaksanaannya.
Pada ujian nasional tahun 2016/2017 mendatang Kementerian Agama Jawa Timur memberikan pertanda kesiapan mengikuti UNBK. Hal ini berarti sangat banyak dibutuhkan dana untuk mempersiapkannya. Di sisi lain, iklim belajar mandiri juga perlu disiapkan. Berdasarkan berbagai pertimbangan sebelumnya, evaluasi pembelajaran online berbasis android perlu dibiasakan untuk menciptakan kesiapan UNBK yang jujur dan berprestasi.

3.2 Saran
          Berdasarkan uraian sebelumnya, penulis menyampaikan saran-saran:
            a). Dalam rangka menghadapi UNBK, perlu diciptakan pembelajaran dan evaluasi yang
                 menonjolkan kejujuran dan  prestasi;
            b). Perlu sering dilakukan latihan evaluasi pembelajaran online agar tercipta literasi TIK
                  yang memadai;
            c). Madrasah perlu melakukan pelatihan guru dalam membuat soal-soal online;
            d). Pemerintah perlu mempertimbangkan pelaksanaan UNBK murah, yaitu yang berbasis
                 android.
           

Test Online Menggunakan HP Android








[1] Sumber : http://unbk.kemdikbud.go.id/diunduh tanggal 28 Juli 2016 pukul 20.50.
[2] Sumber : http://www.dadangjsn.com/2015/12/tujuan-dan-fungsi-manfaat-un-ujian.html diunduh tanggal 29 Juli 2016 pukul 06.26.
[3] Sumber : http://www.dadangjsn.com/2015/12/kelebihan-manfaat-unbk-dibandingkan.html, diunduh tanggal 29 Juli 2016 pukul 05.50.
[4] Informan : Perkiraan Pak Ari Arda, CV Berkah Mandiri, Sidoarjo  
 [6] Penulis sudah sangat berpengalaman dalam melaksanakan pembelajaran online berbasis android di kelas, khususnya di Quipper School.
 [7] Dulu untuk menguasai pemrograman android perlu pelatihan beberapa bulan. Namun sekarang hal itu dapat dikuasai hanya dengan pelatihan selama 1 s.d. 2 jam saja.


DAFTAR PUSTAKA


Anitah, Sri. 2009. Media Pembelajaran. Surakarta : Yuma Pressindo.

Kadir, Abdul. 2013. Pemrograman Aplikasi Android. Yogyakarta : Andi.

Panjaitan, Yusrizal. 2013. Mengelola Blog Sebagai Media Pembelajaran Online.Yogyakarta :LeutikaPrio.

Rusman. 2013. Belajar dan Pembelajaran Berbasis Komputer : Mengembangkan Profesionalisme    
                             Guru Abad 21.Yogyakarta : Arr-Ruz.

Sanjaya, Ridwan dan Marlon Leong. 2008. Mudah  Membangun Web E-Learning.Yogyakarta :Arr-Ruz.

Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikum 2013.Yogyakarta :Arr-Ruz.

Suwandi, Sarwiji. 2011. Model-Model Asesmen dalam Pembelajaran.Surakarta : Yuma Pressindo.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Masukan dan Komentar Anda