Selamat Datang,

Blog ini berisi segala wacana yang berhubungan dengan bahasa dan sastra Indonesia. Di antaranya tentang wacana bahasa dan sastra Indonesia, bahan ajar, pusi, cerpen, penelitian, lomba menulis / mengarang, hingga tes kebahasaan.
Saya berharap ada kritik dan saran Anda yang dapat menyempurnakan blog ini.

Bagi adik-adik, silakan membaca atau mengkopi isi blog ini untuk keperluan tugas atau lainnya. Sesuai dengan etika ilmiah, silahkan kutip sumbernya yaitu dari blog ini.

Terima kasih atas kunjungan Anda.

Blogmaster



Cara Cepat Mencari Blog Ini>>>>>>>>>>> Ketikkan Wacana Bahasa pada Google

Puisi

Model Membaca Puisi Siswa Kelas XIIA1

06 Oktober 2016

Evaluasi "Maju Pintas", Teknik Efektif Ujian Daring.

Kebijakan Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional, khususnya mantan Mendikbud (Anies Baswedan) agar ujian nasional dilakukan dengan cara UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) patut diapresiasi dan dilanjutkan meskipun beliau sudah tidak menjabat lagi.Mengapa demikian?
Kita patut prihatin terhadap pelaksanaan UN (ujian nasional). Memang, banyak siswa kita yang masih  memiliki kejujuran dalam mengikuti ujian nasional. Namun demikian, kita harus prihatin karena banyak pula kecurangan yang terjadi dalam ujian nasional. Karena itulah, kebijakan UNBK disinyalir cukup efektif untuk menghasilkan lulusan yang berintegritas tinggi dan berprestasi.
Kali pertama, UNBK dilaksanakan pada tahun 2014 di Sekolah Indonesia Tingkat SMP di Singapura dan Kuala Lumpur. Keberhasilan ini kemudian diharapkan oleh Pemerintah dilaksanakan di sekolah-sekolah di Indonesia.Pada tahun pelajaran 2015/2016, UNBK diterapkan kembali pada 556 sekolah, yaitu : 42 SMP/MTs, 135 SMA/MA, dan 379 SMK pada 29 provinsi di Indonesia dan luar negeri. Pada tahun 2016/2017 yang akan datang semakin banyak sekolah yang ikut melaksanakan UNBK bila mampu memenuhi sarana dan prasarana UNBK yang memadahi. Adapun sekolah-sekolah yang belum mampu memenuhinya boleh tetap melaksanakan Ujian Nasional berbasis Kertas dan Pensil (UNKP). 



Mantan Kemendikbud mengakui bahwa hasil UN menunjukkan peningkatan  integritas (kejujuran) meskipun prestasi siswa rata-rata menurun.
Hal ini patut dimaklumi karena ujian yang menggunakan sistem komputer. Sistem komputer mampu mengacak soal dan pilihan jawaban dengan  sangat mudah. Demikian pula dalam koreksi jawabannya. Soal yang muncul di layar monitor menjadi lebih beragam sehingga memperkecil peluang kerjasama antarsiswa dalam menjawab pertanyaan. Demikian pula bocoran jawaban melalui media sms ataupun print out tidak akan bisa berbuat apa-apa.
Idealisme pelaksanaan UNBK ini patut dilanjutkan lagi oleh para menteri pengganti beliau namun perlu semakin disempurnakan pelaksanaannya. Jangan malah menghapusnya karena bukan kebijakan itu bukan miliknya dan kembali ke sistem manual. Kalaupun itu terjadi dialah yang paling bertanggung jawab dalam menghancurkan moral pendidikan anak bangsa.
Implementasi UNBK oleh Pemerintah memang sangat idealis dalam pendidikan kita. Namun demikian, ada dua kelemahan mendasar yang perlu dicari solusinya. Kelemahan tersebut di antaranya :
Pertama, UNBK sangat mahal. Memang, dari satu sisi Pemerintah telah terjadi penghematan besar-besaran karena paperless, tidak melibatkan tender percetakan, tidak perlu ada distribusi soal, dan lain-lain. Namun demikian, beban biaya tinggi itu dilimpahkan pada sekolah-sekolah penyelenggara dengan menyediakan sarana komputer dan perangkatnya.
Kedua, belum siapnya siswa dalam menghadapi UNBK secara mandiri. Faktor kedua ini meliputi literasi siswa terhadap TI (teknologi informasi) dan kompetensi terhadap mata pelajarannya. Di sisi lain faktor psikhologis siswa juga perlu diperhitungkan. Berdasarkan pengalaman dan eksperimen penulis terhadap ujian daring (online), banyak siswa yang menjadi grogi dan cemas saat berhadapan dengan ujian online. Sementara itu, keputusasaan karena tidak bisa saling mencontek dengan yang lain mereka lampiaskan dengan berspekulasi menjawab.
Solusi masalah pertama adalah dengan mengadakan ujian nasional daring dengan gadget, yaitu : laptop, tablet, atau handphone. Tablet dan handphone saat ini bukan barang mahal lagi. Bahkan piranti ini hampir dimiliki semua anak sebagai bahan mainan. Kita tinggal mengubah image gadget dari alat mainan menjadi alat belajar. Sekolah tinggal meminjamnya dan "mengarantina" beberapa hari sebelum digunakan ujian nasional. Berdasarkan pengalaman penulis saat dalam melaksanakan ujian daring, soal kita konversikan ke dalam aplikasi android. Pelaksanaannya lancar, hasilnya luar biasa, praktis, mudah, dan murah.
Solusi masalah kedua adalah dengan membiasakan siswa ujian daring. Dengan membiasakan mereka latihan ujian daring, mereka akan meningkat literasi TI mereka. Di samping itu, dengan terbiasa ujian yang tidak bisa saling contek diharapkan mereka menyiapkan diri lebih baik saat mau ujian daring alias belajar lebih giat.
Untuk membiasakan siswa mengikuti ujian daring, guru harus memiliki kompetensi membuat soal dan melaksanakan tesnya. Karena itu diperlukan pelatihan terhadap para guru dan harus sering mempraktikkannya di kelas.

Asyiknya Evaluasi "Maju Pintas"
Setelah menerapkan evaluasi daring beberapa kali di kelas, saya menemukan evaluasi yang mengasyikan. Evaluasi daring ini saya namakan "Maju Pintas" yang merupakan akronim dari : mandiri, jujur, pintar, dan tuntas.
Mandiri, artinya soal tes dikerjakan sendiri oleh siswa. Evaluasi ini menutup kemungkinan adanya kerjasama, saling contek, dan sejenisnya. Hal ini karena aplikasi Google Form mampu mengacak baik nomor soal maupun pilihan jawabannya. Para siswa pun diminta untuk membaca gadget masing-masing, baik laptop, tablet, maupun handphone.
Jujur, artinya tidak curang, tidak mencontek, tidak kerjasama, dan sejenisnya. Inilah salah satu kompetensi inti dari Kurikulum 13 yang harus dimiliki para siswa.
Pintar, artinya pandai atau cerdas. Dengan kemandirian dan tuntutan belajar mandiri diharapkan akan meningkatkan kecerdasan siswa.
Tuntas, artinya selesai. Biasanya dalam setiap ujian atau ulangan akan ada siswa yang nilainya di atas standar KKM dan yang tersisa mereka yang nilainya di bawah standar. Mereka yang nilainya kurang dapat melakukan ujian ulang (remidi) dengan soal yang sama hingga nilai mereka tuntas.
Misalnya, saya menetapkan batas lulus nilai KKM 76, maka yang sudah memiliki nilai 76 ke atas saya persilakan istirahat (supaya tidak membantu temannya). Sementara yang nilainya di bawah 76 saya haruskan mengulang lagi hingga nilainya 76 ke atas.

Contoh Nilai Siswa dan Remidi Ketuntasannya

Bagusnya, Google Form mampu menunjukkan setiap siswa telah memasukkan ujiannya selesai maka nilai akan keluar dan tampak di layar monitor. Tugas kita hanya memerintahkan siswa yang lulus untuk istirahat di luar, semestara yang tidak lulus harus mengulang lagi hingga tuntas.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Masukan dan Komentar Anda