Selamat Datang,

Blog ini berisi segala wacana yang berhubungan dengan bahasa dan sastra Indonesia. Di antaranya tentang wacana bahasa dan sastra Indonesia, bahan ajar, pusi, cerpen, penelitian, lomba menulis / mengarang, hingga tes kebahasaan.
Saya berharap ada kritik dan saran Anda yang dapat menyempurnakan blog ini.

Bagi adik-adik, silakan membaca atau mengkopi isi blog ini untuk keperluan tugas atau lainnya. Sesuai dengan etika ilmiah, silahkan kutip sumbernya yaitu dari blog ini.

Terima kasih atas kunjungan Anda.

Blogmaster



Cara Cepat Mencari Blog Ini>>>>>>>>>>> Ketikkan Wacana Bahasa pada Google

Puisi

Model Membaca Puisi Siswa Kelas XIIA1

02 Oktober 2016

Makalah : Penggunaan Evaluasi Daring dengan Google Form Untuk Membangun Integritas dan Prestasi Siswa Madrasah


oleh :

Drs. Sartono, M.Si.
Guru MAN Sidoarjo



BAB I PENDAHULUAN



1.1    Latar Belakang
Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK)  yang juga dikenal dengan istilah Computer Based Test (CBT) secara daring (online) pertama kali dilaksanakan di SMP Indonesia di Singapura dan Kuala Lumpur pada tahun  2014. Hasilnya sangat menggem-birakan. Tingkat literasi para siswa terhadap penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dinilai baik.[1]
Pada tahun pelajaran 2015/2016, UNBK diterapkan kembali pada 556 sekolah, yaitu : 42 SMP/MTs, 135 SMA/MA, dan 379 SMK pada 29 provinsi di Indonesia dan luar negeri. Pada tahun 2016/2017 yang akan datang semakin banyak sekolah yang ikut melaksanakan UNBK bila mampu memenuhi sarana dan prasarana UNBK yang memadahi. Adapun sekolah-sekolah yang belum mampu memenuhinya boleh tetap melaksanakan Ujian Nasional berbasis Kertas dan Pensil (UNKP).  
Menurut mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan, hasil UNBK menunjukkan peningkatan integritas (kejujuran), meskipun  prestasi siswa rata-rata menurun. Berdasarkan data Kementerian dan Kebudayaan, nilai rata-rata ujian Ujian Nasional (UN) SMP tahun 2015 adalah 62,18 sedangkan tahun 2016 menjadi 58,57. Dalam hal ini terjadi penurunan 3,8 poin. Yang sangat menggembirakan ada peningkatan nilai Integritas Ujian Nasional (IIUN) sebesar 72%. Rinciannya sebanyak 21,16 % sekolah mengalami kenaikan IIUN diikuti nilai UN yang meningkat. Sebanyak 50,96 % sekolah mengalami kenaikan IIUN tetapi nilai UN-nya menurun. Sementara itu ada 13,61 % sekolah yang memiliki kecurangan masif dan terstruktur dan 14,27 % sekolah yang siswanya melakukan kecurangan secara individual.[2]
Pelaksanaan UN berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2015 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa tujuan ujian nasional adalah untuk mengukur pencapaian kompetensi secara nasional dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan juga melaksanakan amanah PP 19/2015 yang telah direvisi menjadi PP 32/2015 dan PP 13/2015 bahwa ujian nasional merupakan subsistem penilaian dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang menjadi salah satu tolok ukur dalam rangka penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan.[3]  Di sini terlihat bahwa dalam tataran kebijakan Pemerintah, UN memiliki idealisme yang tinggi tetapi dalam implementasinya di lapangan terjadi banyak penyimpangan, karena kecurangan dan penyimpangan secara masif dan terstruktur. Karena itu Pemerintah mencanangkan motto UN tahun pelajaran 2015/2016 adalah Ujian Nasional Yang Jujur dan Berprestasi atau lebih dikenal dengan istilah “Prestasi Ya, Jujur Harus”. Di samping itu, Pemerintah juga bertekad tetap melanjutkan UNBK dan menghimbau semua sekolah / madrasah juga mengikutinya.


Bila dikaji lebih jauh, di samping optimisme yang tinggi, sebenarnya ada dua kelemahan mendasar dari harapan Pemerintah tersebut. Kelemahan itu adalah : (1) UNBK membutuhan sarana dan prasarana yang relatif mahal, dan (2) Lemahnya kemandirian siswa dalam melaksanakan UN. Adapun solusi yang perlu dipertimbangkan adalah: (1) perlu melaksanakan UNBK yang murah dan praktis, yaitu menggunakan gadget, berupa laptop, tablet, atau  handphone  android dan (2) membiasakan evaluasi daring yang mandiri.[4]
UNBK yang telah dilaksanakan Pemerintah selain mahal ternyata tidak sepenuhnya daring, melainkan hanya semidaring. Artinya, master soal UNBK diunduh (download) dari server pusat ke server masing-masing sekolah. Pada saat yang ditentukan dilakukanlah UNBK. Setelah selesai barulah hasilnya diunggap (upload) dari server sekolah ke server pusat. Cara ini sebenarnya juga rawan penyimpangan.[5]  Masalah UNBK yang mahal dan semidaring ini dapat diatasi dengan mengadakan UNBK daring dengan menggunakan gadget. Dengan demikian, madrasah sudah tidak terlalu direpotkan dengan menyiapkan komputer dan perangkatnya yang sangat mahal.
Justru permasalahan kedualah yang paling mendasar. Penyebabnya  turunnya prestasi siswa adalah karena rendahnya literasi siswa terhadap TIK dan ketidakmandirian siswa dalam ujian. Karena itu perlu dilakukan pembiasaan melakukan evaluasi daring saat ulangan harian, ulangan blok, ujian semester, tryout UN, bahkan ujian akhir madrasah. Soal evaluasi yang berbeda urutan dan pilihan jawabannya akan menyulitkan para siswa saling bekerja sama. Bila hal ini selalu dilakukan saat ujian, maka siswa akan berusaha menyiapkan diri dengan baik dalam menghadapi evaluasi daring, termasuk UNBK.
Saat ini banyak sekolah maupun madrasah yang menggunakan gadget sebagai sarana pembelajaran, termasuk evaluasi.[6] Para siswa berpendapat bahwa semakin mereka dibiasakan ujian daring, prestasi mereka semakin baik. Hal ini karena literasi mereka terhadap TIK semakin baik, demikian pula kesiapan emosi, mental, dan kemandirian mereka dalam belajar untuk menghadapi ujian daring. Karena itu para siswa umumnya mengharapkan perlu sering dilakukan evaluasi daring. [7]
Masalah berikutnya, dalam mendukung kemandirian siswa saat evaluasi adalah kemampuan guru. Dalam hal ini, guru perlu memiliki kemampuan menyusun soal untuk evaluasi daring secara mandiri. Disamping merupakan tuntutan peningkatan profesionalisme, kompetensi ini akan membiasakan guru untuk melaksanakan evaluasi daring. 
Ada beberapa aplikasi untuk pembuatan tes daring dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Di antaranya : Edmodo, Quipper School, Quiz Maker dari iSpring, Quiz Creator dari Wondershare, Google Form dari Google, Adobe Captivate, dan sejenisnya. Dari beberapa aplikasi tes daring itu yang paling cocok  adalah Google Form. [8] Keunggulannya, aplikasi ini gratis, tanpa hosting (jadi langsung menggunakan server Google), langsung bisa mengolah nilai akhir, dan bisa diubah menjadi aplikasi android yang relatif ringan.
Akhirnya dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa guru perlu memiliki kemampuan membuat evaluasi daring secara mandiri dengan menggunakan aplikasi google form sehingga guru bisa sering menggunakannya. Sasarannya agar siswa terbiasa melaksanakan evaluasi daring secara mandiri sehingga siswa bisa menjadi pribadi yang memiliki integritas tinggi dalam setiap ujian, termasuk UNBK.
  

1.2    Rumusan Masalah
Bertolak dari uraian di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.
a.       Bagaimanakah pembuatan evaluasi pembelajaran daring  dengan menggunakan google form?
b.      Bagaimanakah pelaksanaan evaluasi pembelajaran daring  dengan menggunakan google form di kelas?
c.       Bagaimanakah pengolahan data nilai dari evaluasi pembelajaran daring  dengan menggunakan google form?

1.3    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini adalah :
a.       Menjelaskan pembuatan evaluasi pembelajaran daring dengan menggunakan google form.
b.      Menjelaskan pelaksanaan evaluasi pembelajaran daring dengan menggunakan google form di kelas.
c.       Menjelaskan pengolahan data dari evaluasi pembelajaran daring  dengan mengguna-kan google form.

1.4    Manfaat Penulisan
a.      Bagi Siswa
-          Siswa bisa melaksanakan evaluasi daring secara mandiri dan jujur;
-          Siswa memiliki kompetensi terkait pemanfaat teknologi untuk  evaluasi daring;
-          Siswa memiliki integritas dan kompetensi literasi tinggi dalam bidang evaluasi daring. 

b.      Bagi Guru
-          Guru bisa dan terbiasa menggunakan evaluasi daring untuk para siswanya;
-          Guru memiliki kompetensi  dan literasi tinggi dalam menggunakan TIK sebagai sarana evaluasi daring;
-          Guru memiliki komitmen tinggi dalam membangun pribadi siswa yang memiliki integritas tinggi dalam melaksanakan evaluasi daring.


c.       Bagi Madrasah
-          Madrasah perlu menggadakan pelatihan untuk para guru agar memiliki kompetensi membuat evaluasi daring secara mandiri;
-          Madrasah menyiapkan sarana dan prasarana agar para siswa dapat melakukan evaluasi daring;
-          Madrasah memiliki komitmen tinggi dalam membangun pribadi siswa yang memiliki integritas tinggi dalam melaksanakan evaluasi daring;
-          Madrasah memiliki program untuk mengawasi dan menghapus aplikasi maupun konten-konten negatif pada gadget siswa.

d.      Bagi Masyarakat
-          Masyarakat mendukung program madrasah dalam menciptakan pribadi siswa yang memiliki integeritas dan literasi tinggi dalam bidang TIK;
-          Anggota masyarakat, khususnya orang tua juga harus selalu mengawasi dan menghapus aplikasi maupun konten-konten negatif pada gadget anak-anaknya.

e.       Bagi Pemerintah
-          Pemerintah menetapkan kebijakan yang mendukung program madrasah dalam menciptakan pribadi siswa yang memiliki integeritas dan literasi tinggi dalam bidang TIK;
-          Pemerintah memberikan bantuan sarana dan prasarana yang mendukung pembangunan pribadi siswa madrasah agar memiliki integeritas dan literasi tinggi dalam bidang TIK;





BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN


2.1 Google for Education
            Google Inc. adalah sebuah perusahaan multinasional Amerika Serikat yang bergerak pada jasa dan produk Internet. Produk-produk itu meliputi teknologi pencarian, komputasi web, perangkat lunak, dan periklanan daring. Google didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin saat masih mahasiswa Ph.D. di Universitas Stanford. Mereka menjadikan  Google sebagai perusahaan swasta pada tanggal 4 September 1998. Pernyataan misinya adalah "mengumpulkan informasi dunia dan membuatnya dapat diakses dan bermanfaat oleh semua orang". Pada tahun 2006, kantor pusat Google pindah ke Mountain View, California.  Sejak didirikan, pertumbuhan perusahaan yang cepat telah menghasilkan berbagai produk, akuisisi, dan kerja sama di bidang mesin pencari inti Google. Perusahaan ini menawarkan perangkat lunak produktivitas daring (dalam jaringan), termasuk surat elektronik (surel), paket aplikasi perkantoran, dan jejaring sosial. Produk-produk komputer mejanya meliputi aplikasi untuk menjelajah web, mengatur dan menyunting foto, dan pesan instan. Perusahaan ini juga memprakarsai pengembangan sistem operasi android untuk telepon genggam.
            Google juga memberikan layanan  nonprofit  untuk pendidikan yang dikenal Google Apps for Education. Layanan ini berupa beberapa produk aplikasi beserta penyimpanan data yang gratis, yaitu : Classroom, Gmail, Drive, Calendar, Docs, Sheets, Slides, dan Sites.

Gambar 1 : Aplikasi dalam Google for Education

Dengan layanan tersebut, Google benar-benar mencurahkan bantuannya untuk pengembangan pembelajaran. Dalam hal ini Google menawarkan solusi bagai para guru dan siswa dalam pembelajaran berupa fasilitas beberapa aplikasi daring maupun produk-produk yang dijual relatif murah untuk pendidikan.

Gambar 2 : Google Education Sebagai Solusi


Gambar 3 : Ilustrasi dalam Pembelajaran

Yang juga sangat penting, Google memberikan fasilitas bagi para guru untuk saling berkomunikasi, saling berbagi, dan bertukar pengalaman dalam pengembangan pembelajaran.

Gambar 4 : Jaringan Antar Guru

2.2 Google Form
            Google Form merupakan salah satu aplikasi yang gratis selain Google  Classroom, Gmail, Drive, Calendar, Docs, Sheets, Slides, dan Sites. Google Form secara khusus digunakan untuk membuat kuis untuk tes, maupun survei.

Gambar 5 : Tampilan Depan Google Form

Keutamaan aplikasi pembuat soal ini antara lain:
a.       Aplikasi gratis dari Google for Education;
b.      Tanpa harus hosting (sewa tempat di server lain) karena langsung tersimpan di Google Drive;
c.       Memiliki fasilitas dashboard  untuk penulisan soal dengan sistem salin-tempel (copy-paste);
d.      Memiliki  fasilitas  pengacak urut nomor soal dan sekaligus pilihan jawabannya;
e.       Memiliki fasilitas melihat hasil soal secara langsung (preview);

f.   Memiliki fasilitas pengolah hasil evaluasi, yaitu : hasil nilai, analisis butir soal, analisis hasil keseluruhan dan pribadi, dan lain-lain.



BAB III PEMBAHASAN


3.1 Pembuatan Evaluasi Pembelajaran
            Dalam membuat evaluasi daring dengan menggunakan Google Form, ada beberapa tahap yang perlu diperhatikan, yaitu :
      a.      Tahap Prapenulisan Soal
Dalam tahap ini ada dua hal yang perlu dilakukan, yaitu :
(1)   Harus memiliki jaringan internet, baik melalui wifi  atau modem.
(2)   Harus memiliki akun di Google Form.
(3)   Membuat konsep soal lebih dahulu
Konsep soal dapat disiapkan dalam file Word, atau Excel.

       b. Tahap Penulisan Soal
       Langkah-langkahnya:
                 (1) Nyalakan internet, setelah siap klik ikon Google, sehingga muncul tampilan berikut.

Gambar 6 : Tampilan Depan Google

(2)  Ketik Google Form pada kotak pencari, sehingga muncul tampilan berikut.

Gambar 7 : Pencarian Web untuk Google Form

     (3)   Klik web paling atas, yaitu : Google Formulir – buat dan analisis survey, gratis  sehingga      muncul tampilan berikut.

Gambar 8 : Tampilan Depan Google Form

(4)   Klik Buka Google Formulir,  Sehingga muncul tampilan harus memasukkan email, password, dan kode verifikasi yang masuk ke handphone kita.


(5)   Muncul tampilan dashboard untuk mengetik soal dan atau juga memasukkan konsep soal sebelumnya dengan cara copy-paste.

Gambar 10 : Dashboard Editing Soal

Gambar 11 : Preview Soal Jadi

           a.      Tahap Finalisasi  
Masih ada satu tahap lagi yaitu finalisasi pembuatan soal. Hal ini dilakukan agar soal dapat ditampilkan secara daring melalui laptop atau android. Ada dua cara menampilkan soal secara daring, yaitu :
(1)   Berbasis Web
Agar dapat ditampilkan di website secara daring, yang dilakukan sebagai berikut.
-          Dalam posisi berada dalam dashboard penulisan soal, lakukan klik  Kirim.

Gambar 12  Finalisasi Berbasis Web

-          Muncul tampilan berikut  dan isilah setiap isian dalam tab yang berisi link soal dalam tampilan website, kemudian catatlah dan jangan lupakan karena setiap kali evaluasi dari link itu yang dipakai, misalnya : https://goo.gl/forms/LhZHBuxGx9X9RDaX2

Gambar 13  Link Untuk Evaluasi Berbasis Web


(2)   Berbasis Android
Agar dapat dibuka pada gadget android, maka harus diciptakan aplikasi android untuk soal tersebut. Kita dapat menggunakan http://www.androidcreator.com  sebagai konverternya. Adapun caranya :
-          Masuklah (login) ke website http://www.androidcreator.com .
-          Ikutilah langkah-langkahnya sehingga menghasilkan link aplikasi evaluasi berbasis android yang siap diunduh saat evaluasi[2] sebagaimana di bawah ini.

Gambar 14  Link Aplikasi Evaluasi Berbasis Android


3.2 Pelaksanaan Evaluasi Pembelajaran
            Untuk pelaksanaan evaluasi pembelajaran, yang harus dilakukan adalah :
a.      Persiapan
-  Perlu pemberitahuan sebelumnya sehingga para siswa menyiapkan gadget
    mereka sendiri;
-  Bila menggunakan wifi sekolah, harus dimaksimalkan kualitas pancarnya;
-  Siapkan situasi dan kondisi mental siswa, serta berikan motivasi  agar siap
    evaluasi daring yang mandiri.
b.      Pelaksanaan
(1) Yang Berbasis Website Menggunakan Laptop
-  Tuliskan link website soal evaluasi dari google form di papan tulis, misalnya :
-  Tulis link tersebut, kemudian tekan [ENTER] akan muncul tampilan soalnya
    dan para siswa diminta menyelesaikan soal hingga selesai.

Gambar 15  Soal Siap Dikerjakan Hingga Selesai

(2) Yang Menggunakan Tablet / Handphone Android
-  Tuliskan link aplikasi evaluasi dari Androidcreator di papan tulis, misalnya:
      http://www.androidcreator.com/app167579          
-  Selanjutnya para siswa diminta untuk mengunduh aplikasi tersebut  dan
    menginstallnya (membutuhkan waktu kira-kira 2 menit)
-          Setelah selesai siswa diminta membuka aplikasi dan mengerjakan soal hingga selesai.


3.3 Pengolahan Data Evaluasi Pembelajaran
            Sebenarnya dalam dashboard Google Form dapat diketahui hasil pengolahan data evaluasi daring yang telah dilakukan secara otomatis. Hasil pengolahan data itu berupa :
      a.       hasil nilai,

     b.       grafik nilai secara keseluruhan,

 c.       analisis kesulitan soal keseluruhan, dan


      d.       analisis kesulitan soal per siswa.









BAB IV PENUTUP

4.1  Simpulan
Guru perlu memiliki kemampuan membuat soal daring secara mandiri dengan menggunakan aplikasi google form sehingga bisa sering menggunakannya saat melaksanakan evaluasi. Sasarannya agar siswa terbiasa melaksanakan evaluasi daring secara mandiri dan bisa menjadi pribadi yang memiliki integritas tinggi dalam setiap ujian, termasuk UNBK.
Ada beberapa tahap dalam pembuatan evaluasi daring, yaitu: (a) tahap prapenulisan soal, yang perlu disiapkan adalah harus memiliki jaringan internet (wifi/modem), harus memiliki akun di Google Form, dan membuat konsep soal; (b) tahap penulisan soal, meliputi : nyalakan internet, masuk ke google, masuk ke Google Form, mengetik soal hingga selesai, dan (c) tahap finalisasi soal, yaitu membuat link soal di website maupun di aplikasi android.
            Dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran, yang harus dilakukan adalah : mempersiapkannya, yaitu : sebelumnya memberitahu siswa, menyiapkan wifi, dan menyiapkan kondisi mental, serta memberikan motivasi;  dalam pelaksanaanya membuka soal lewat link website atau aplikasi android, dan mengerjakannya hingga selesai.
Hasil pengolahan data dapat langsung dilihat pada dashboard penulisan soal. Data tersebut dapat berupa hasil nilai, grafik nilai secara keseluruhan, analisis butir soal secara keseluruhan dan per siswa.

4.2  Saran
            Ada beberapa saran yang perlu dilaksanakan terkait dengan makalah ini, yaitu :
a.       Para guru perlu memiliki kompetensi membuat evaluasi daring;
b.      Para guru perlu sering membiasakan evaluasi daring, sehingga literasi TIK dan kemandirian dan prestasi siswanya meningkat;
c.       Pihak pimpinan madrasah perlu mengadakan pelatihan pembatan soal daring bagi para guru;
d.      Pemerintah tetap perlu memberikan bantuan sarana dan prasarana evaluasi daring untuk meningkatkan literasi TIK dan kemandirian dan prestasi siswa;
e.       Penelitian yang lebih intensif dapat dilakukan terkait dengan topik ini sehingga tercipta hasil penelitian yang mendalam dan lebih bermakna.






[1] Lihat : http://unbk.kemdikbud.go.id/  diunduh tanggal 28 Juli 2016, pukul 20.50.

[2] Lihat : http://news.detik.com/berita/3230382/ nilai-rata-rata-un-smp-tahun-2016-3-poin-dari-tahun-lalu.
  Diunduh tanggal 29 Juli pukul 09.27.

[3] Lihat : http://www.dadangjsn.com/2015/12/tujuan-dan-fungsi-manfaat-un-ujian.html . Diunduh tanggal 29 Juli 2016 pukul 06.26.

[4] Lihat : Sartono. 2016. Penggunaan Evaluasi Pembelajaran Murah Berbasis Android. (Makalah belum diterbitkan). Sidoarjo : MAN Sidoarjo.   

[5] Dalam dunia hacker ada istilah”No System is Safe”. Artinya tidak ada sistem yang benar-benar aman. Hal itu juga berarti semua sistem mudah dibobol, apalagi  dalam kondisi offline di masing-masing server sekolah. Tanpa  sistem  proteksi  yang  memadahi,  paket  soal  bisa  bocor  bahkan  dimanipulasi hasilnya  sebelum diunggah ke server pusat. Dengan demikian optimisme Pemerintah akan UNBK yang bersih dan berintegritas tinggi akan sia-sia karena sistem yang masih semidaring ini.
 
[6] Saat ini masih ada kontroversi penggunaan gadget di sekolah apalagi madrasah di lingkungan pesantren.
  Gadget masih dikhawatirkan sebagai sumber hal-hal  negatif, dengan  melupakan  hal-hal  positifnya. Solusi
  nya  perlu  dibudayakan  “gadget untuk pendidikan”. Artinya, gadget harus digunakan untuk pendidikan.
  Konsekuensinya aplikasi-aplikasi dan konten-konten negatif harus dihapus sendiri oleh siswa sendiri atau    atas pengawasan gurunya.   Pihak sekolah harus memiliki program untuk selalu melakukan pengawasan      rutin terhadap  gadget-gadget yang  dipakai  siswa. Sementara  itu  bagi  madrasah  di  pondok pesantren dapat menyediakan gadget-gadget sendiri atau dengan bantuan orang tua khusus diisi aplikasi dan konten pendidikan kemudian menyimpannya kembali dan hanya digunakan untuk pembelajaran, khususnya  evaluasi pembelajaran. Dengan demikian, para siswa tetap akrab dengan teknologi tanpa harus melanggar akidah agama.

[7] Lihat : Lampiran 1 Hasil Survei Persepsi Siswa terhadap Pelaksanaan Evaluasi Daring dan Ujian Manual
   (Berbasis Kertas)

[8] Lihat Lampiran 2 Perbandingan Spesifikasi Aplikasi Tes Daring.








DAFTAR PUSTAKA

Anitah, Sri. 2009. Media Pembelajaran. Surakarta : Yuma Pressindo.

Kadir, Abdul. 2013. Pemrograman Aplikasi Android. Yogyakarta : Andi.

Panjaitan, Yusrizal. 2013. Mengelola Blog Sebagai Media Pembelajaran Online.Yogyakarta
       : LeutikaPrio.

Rusman. 2013. Belajar dan Pembelajaran Berbasis Komputer : Mengembangkan Profesio-
                nalisme Guru Abad 21.Yogyakarta : Arr-Ruz.

Sanjaya, Ridwan dan Marlon Leong. 2008. Mudah  Membangun Web E-Learning.Yogyakarta
     : Arr-Ruz.

Shoimin, Aris. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikum 2013.Yogyakarta :
                   Arr-Ruz.

Suwandi, Sarwiji. 2011. Model-Model Asesmen dalam Pembelajaran.Surakarta : Yuma
                   Pressindo.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Masukan dan Komentar Anda